Direktur Program Hutan WWF Internasional, Rodney Taylor mengatakan, Sumatera telah kehilangan lebih dari setengah hutan alam karena produksi kertas dan minyak sawit. Hutan yang tersisa pun, kata Taylor, sudah terfragmentasi merah.
"Proyeksi WWF menunjukkan, setidaknya 5 juta hektar hutan dapat hilang pada tahun 2030," ucap Taylor di Hotel Shangri La, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Papua dan Papua Nugini dapat kehilangan hingga 7 juta hektar hutan hingga tahun 2030 jika rencana pembangunan pertanian berskala besar terwujud.
"Pemerintah Indonesia dan pembuat kebijakan di tingkat lokal dapat mengubah rencana pembangunan yang berorientasi jangka pendek dengan pendekatan konservasi lahan yang akan melestarikan hutan dan menyediakan kesempatan ekonomi yang lebih baik," urainya.
Moratorium izin konversi baru, kata Taylor, merupakan kesempatan untuk mengkaji langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menghentikan deforestasi dan mengembangkan ekonomi yang lebih hijau dan inklusif.
Direktur Kebijakan dan Transformasi WWF Indonesia, Budi Wardhana menambahkan, perlu ditingkatkan upaya bersama untuk menuju transformasi pengelolaan sumber daya hutan dan lahan secara berkelanjutan, khususnya di sektor kehutanan.
"Langkah tersebut dapat diwujudkan melalui interaksi antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dengan dinamika yang semakin positif," ujar Budi.
(kff/fdn)










































