Kolom
Cermat Tak Sama dengan Lambat
Senin, 14 Feb 2005 14:59 WIB
Jakarta - Ada keluhan umum pada saat Megawati menjadi presiden. Dia selalu lelet dalam mengambil keputusan. Padahal para pembantunya sudah menyodorkan alternatif-laternatif keputusan terbaik, dan dia tinggal pilih salah satunya. Kelemahan ini yang menjadi alasan pemilih rasional untuk mencoblos gambar pasangan calon presiden SBY-Kalla pada Pemilu Presiden 2004 lalu. Setidaknya hal itu yang diakui oleh kawan-kawan saya yang memiliki beragam profesi.Tetapi belum genap 100 hari berkuasa, mereka sudah kecewa. Dan lagi-lagi, soal kurang sigap dalam mengambil keputusan menjadi salah satu alasan. Penanganan bencana gempa dan tsunami di Aceh yang amburadul adalah dampak dari keterlambatan Presiden SBY dalam mengambil keputusan. "Pada hari kedua beliau kan sudah menerima laporan tentang besarnya skala korban dan kerusakan. Beliau juga tahu, institusi militerlah yang memiliki kompetensi utuk melakukan evakuasi secara cepat. Tapi mengapa baru pada hari keempat presiden mengerahkan tentara ke sana?" tutur seorang kawan yang sehari-hari bekerja sebagai manajer perusahaan pengolah data. Kawan tadi malah balik bertanya, mengapa media tidak mengkritisi kelambanan Presiden SBY dalam mengambil keputusan? "Dalam suasan duka, tak pantas untuk saling menyalahkan. Yang penting kita semua harus bergerak untuk membantu mereka yang jadi korban. Tapi media pasti punya catatan," jawab saya meyakinkan.Jawaban yang sama juga saya lontarkan kepada kawan aktivis LSM yang mempertanyakan sikap pers dalam menghadapi soal kelambanan penanganan bencana di Aceh. Tapi dasar seorang aktivis, dia tak mau menerima jawaban saya begitu saja. "Moga-moga Anda tidak bosan mencari alasan untuk memahami kelambanan presiden dalam mengambil keputusan sepanjang lima tahun ke depan."Belum sempat menjawab, kawan saya meneruskan ujarannya, "Bagaimana dengan kelambatan penandatangan PP Pilkada? Apakah pers juga bisa memahami pernyataan Menseskab bahwa presdien tidak lambat, melainkan cermat. Jangan-jangan nanti Anda tidak bisa membedakan antara teliti dengan telmi."Saya pun terbahak, sambil mengumpat.
(diks/)











































