Sejak pertama masuk sebagai pegawai Rutan Cipinang pada tahun 2008 lalu, Yulius membuat inovasi dengan menyusun program kesehatan baru bernama SOS Ruci (Rutan Cipinang). Program itu melibatkan 30 orang warga binaan yang dibagi dalam 3 grup.
"Kami ingin membuat konsep supaya kesehatan bukan hanya tanggung jawab petugas tetapi juga tanggung jawab seluruh warga binaan yang ada. Jadi kami latih mereka," kata Yulius usai menerima penghargaan di Ditjen Pemasyarakatan, Jl Veteran nomor 11, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat jauh perbandingannya antara petugas dan warga binaan. Maka kami latih mereka pertolongan gawat darurat," ucapnya.
Selain itu, kata Yulius, program SOS Ruci yang utama adalah membuat survei batuk. Survei itu untuk mendeteksi penyakit Demam Berdarah (DB) dan HIV/AIDS yang banyak diderita para warga binaan.
"Kami keliling blok 24 jam bergantian, cari warga binaan yang batuk. Kalau menemukan, langsung dikasih masker," kata Yulius.
Warga binaan tersebut kemudian diperiksa lebih intensif. Jika terbukti terserang DB atau HIV, mereka akan ditempatkan di ruang isolasi dan diberikan perawatan khusus.
"Cara yang kami lakukan ini berhasil mengurangi angka kematian dari yang awalnya 1-2%, kini kurang dari 1%" katanya.
Cara yang dilakukan di Rutan Cipinang ini kemudian ditiru di rutan-rutan dan lapas-lapas lain. Mereka menamakannya dengan Kader Kesehatan.
"Sekarang di semua UPT (lapas/rutan) ada kader kesehatannya," ujar Yulius.
Metode pengecekan batuk sebagai tes DB dan HIV ini juga telah mendapatkan persetujuan dari pihak Kementerian Kesehatan. "Rutan Cipinang ini pertama kalinya di Indonesia yang menerapkan metode survei batuk," tutupnya.
(kff/imk)











































