Cerita WNI yang Selamat dari Gempa Dahsyat Nepal

Cerita WNI yang Selamat dari Gempa Dahsyat Nepal

Salmah Muslimah - detikNews
Senin, 27 Apr 2015 11:33 WIB
Cerita WNI yang Selamat dari Gempa Dahsyat Nepal
Gempa Nepal (Foto:Reuters)
Jakarta - Gempa dahsyat berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) mengguncang Nepal dan memicu longsoran salju di gunung tertinggi dunia, Mount Everest, Sabtu (25/4) kemarin. Jumlah korban jiwa akibat gempa ini terus bertambah, hingga Senin (27/4) sudah lebih dari 3.000 orang dilaporkan meninggal.



1. 2 WNI Sedang Mendaki Saat Gempa

Foto: Sapta Hudaya dan Tessy
Dua orang WNI sedang trekking di Gunung Annapurna, Nepal, saat gempa berkekuatan 7,9 skala richter (SR) terjadi. Keduanya selamat, namun sempat tak bisa dihubungi beberapa saat.

Keduanya adalah Sapta Hudaya (28) dan Tessi Ananditya (28). Mereka adalah pria dan wanita yang memiliki hobi fotografi. Menurut salah seorang rekan Sapta, Fikri, sejak awal April lalu mereka sudah berada di Nepal, untuk berburu foto dan menggelar pemeran.

"Mereka berencana satu bulan penuh di sana. Dari komunikasi dengan saya, mereka sempat pameran foto di sana," kata Fikri saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/4/2015).

Komunikasi terakhir Fikri dengan Sapta terjadi pada 16 April lalu. Saat itu, kedua WNI tersebut sedang dalam perjalanan bus menuju kawasan Annapurna, untuk trekking-- aktivitas hobi menjelajahi jalur setapak di alam terbuka.

"Selain trekking, mereka mau hunting foto juga. Mereka bilang mau trekking selama 14 hari. Artinya 30 April seharusnya kembali," tambah Fikri.

Kawasan Annapurna adalah salah satu area pendakian di Himalaya. Puncaknya memiliki ketinggian 8.091mdpl, sementara Everest sebagai puncak tertinggi dunia 8.848mdpl.

Menurut Fikri, ada kemungkinan Sapta dan Tessi sulit dihubungi setelah gempa karena memang tak ada sinyal ponsel yang bisa digunakan di area pendakian. Minggu, pukul 20.30 WIB keduanya sudah berhasil dihubungi dan dalam kendaan selamat.

Gempa dahsyat itu menyebabkan longsoran salju mengubur sebagian base camp bagi para pendaki gunung yang akan mendaki Everest. Banyak orang yang tengah berada di atas gunung tersebut saat kejadian. Base camp Everest rusak parah akibat longsoran salju dan banyak pendaki terjebak di sana.

2. Panik Lihat Orang Berlarian

Gempa Nepal (Foto:Reuters)
Β Ahmad Taufan Damanik sedang berada di Pokhara, Nepal, saat gempa terjadi. Dia sempat panik dan merasakan getaran kuat dan melihat orang-orang berlarian.

Ahmad merupakan wakil Indonesia untuk The ASEAN Commission on the Promotion and the Protection of the Rights of Women and Children (ACWC). Dia berada di Nepal karena diundang sebagai pembicara ahli dalam salah satu seminar di sana.

Usai kegiatan di Kathmandu, dia berangkat ke Pokhara, kota yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Kathmandu Ibu Kota Nepal. Pada Sabtu (25/4/2015) siang dia sedang berjalan di Seti River dan Old Bazaar, sekitar 10 kilometer dari kota Pokhara.

"Tiba-tiba gempa keras sekali. Orang-orang berhamburan. Kami langsung balik ke hotel di dekat Danau Fewa," kata Taufan yang dihubungi Sabtu sore.

Disebutkan Taufan, setelah guncangan gempa yang besar itu, gempa lanjutan masih terus terjadi. Orang-orang masih dilanda ketakutan.

"Setiap kali gempa terjadi, orang-orang ketakutan dan lari keluar," kata Taufan.

3. Ngungsi di Depan Hotel Usai Gempa

Foto: Hindustan Times
Esther Indriani menceritakan dahsyatnya getaran saat gempa terjadi. Saat itu Esther bersama ketiga rekannya dari World Vision Indonesia (WVI), yakni Emmy Lucy Smith, Veronica Diana, Laura Hukom berada di Nepal untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan WV di Kathmandu.

Esther sempat beberapa saat tak bisa dihubungi. Namun, sekitar pukul 19.00 WIB, Esther sudah bisa dihubungi dan menceritakan bagaimana dahsyatnya guncangan. Esther menceritakan itu kepada Campaign Director WVI Asteria Aritonang yang kemudian diteruskan ke detikcom, Sabtu (25/4/2015).

"Iya tadi aku berhasil keluar dari kamar hotel, selamat nggak ada luka. Amit-amit seremnya gempa 7.9 SR. Sekarang baru dapat listrik dan wifi dari genset nggak tahu sampai kapan," kata Esther melalui pesan singkat.

Esther menyebut setelah gempat terjadi dirinya tengah mengungsi di depan sebuah hotel. Dia berharap bisa mendapatkan tiket pesawat agar bisa pulang ke Indonesia.

"Sekarang posisi lagi ngungsi di depan hotel. Mudah-mudahan besok penerbangan sudah berfungsi. Korbannya pasti banyak banget," katanya kala itu.

4. Bangunan Runtuh dan Gempa Susulan Terjadi Berkali-kali

Gempa Nepal (Foto: Gema)
Gama Wardhani menceritakan keadaan di Nepal saat gempa terjadi melalui email yang dikirimkan ke redaksi detikcom, Sabtu (25/4/2015) malam. Menurut Gema, gempa susulan terasa mengguncang Nepal hingga beberapa kali. Warga dan turis histeris dan mencari perlindungan

"Saat gempa terjadi, hotel kami berada di daerah Thamel yaitu Annapurna Guest House, gempa terasa begitu kuat dan kebetulan di daerah Thamel merupakan daerah yang terkena imbas gempa paling besar. Thamel dikenal dengan daerah padat dan pusat turis mancanegara berada," kata Gama.

Gama tengah berada di Nepal bersama empat temannya, yakni Lewis Cassidy, Muhammad Insan Kamil, Yospina Opang, dan Muhammad Fadly. Gama bersama temanya tengah berada di Nepal dan menempuh perjalanan Poon Hill, Pokhara, Sarangkot, Nagarkot, Bhaktapur dan Patan. Seharusnya jam 15.00 waktu setempat, Gama dan rombongan sudah kembali ke Jakarta via Kuala Lumpur.

"Situasi Thamel sangat histeris, 2 bangunan di samping hotel kamipun runtuh dan ditemukan banyak sekali korban. Gempa yang dirasakan sangat kuat berulang hingga mencapai Tribhuvan Airport. Banyak warga Nepal yang menyelamatkan diri ke daerah lebih luas seperti Durbar Square. Ditemukan pula beberapa jalanan yang patah diakibatkan gempa ini," jelasnya.

5. Bandara Ditutup, Tak Bisa Kembali ke Jakarta

Gempa Nepal (Foto:Reuters)
Banyak WNI yang tak bisa pulang ke Indonesia dengan segera pasca gempa terjadi karena bandara di Nepal ditutup pada Sabtu (25/4). Hal ini dialami oleh Veronica Dhiana Anggraeni.

"Gempa terbesar yang pernah saya rasakan seumur hidup saya. Baru tahu kalau itu 7.9 skalanya. Saat gempa terjadi siang tadi kami sedang dalam perjalan keluar kota. Di daerah Godavari kira-kira 5 km di luar Kathmandu," kata Veronica melalui pesan singkatnya, Minggu (26/4/2015).

Veronica yang merupakan staf World Vision Indonesia (WVI) menjelaskan bahwa hingga malam, dia bersama rekan-rekannya sesama WNI terus berusaha agar bisa menuju ke bandara. Saat itu dia berharap bisa mendapatkan pesawat yang membawanya pulang secepat mungkin ke Indonesia.

"Kami bertahan di tengah-tengah lapangan sampai gempa agak reda, lalu kami mencoba balik ke kota karena pesawat kami dijadwalkan jam 11 malam Sabtu ini. Tapi sepanjang perjalanan banyak rumah runtuh dan jalan hancur. Kami kembali ke hotel Himalaya di Kathmandu," jelas Veronica.

"Ternyata semua tamu sudah berhamburan keluar, dinding-dinding dan pilar juga retak. Kami mencoba ke airport, tetapi teman kami yang berangkat lebih dulu ke airport kembali ke hotel menyatakan lantai airport terbelah dan sebagian runtuh. Ada info kalau jalan runway pesawat juga retak, tapi kami belum tahu kebenarannya jalan runway tersebut karena belum ada yang lihat langsung," ungkapnya.

Veronica bersama rekan-rekannya pun pergi ke bandara untuk memastikan kabar retaknya runway yang mengakibatkan bandara ditutup. Sesampainya di bandara, ternyata semua penerbangan dibatalkan dan bandara benar-benar ditutup. Namun, soal retaknya runway belum terkonfirmasi oleh Veronica.

"Kami kembali dua kali ke airport, jam 8 malam untuk cek pesawat kami tetap di papan pengumuman di-cancel. Tapi kami dapat kabar dari kantor WVI di Indonesia kalau pesawat kami (Malaysia Airlines) di- cancel sampai jam 4.25 pagi ini. Kami coba ke sana tadi, tapi ternyata bandara masih tutup, tidak ada kabar informasi dan petugas, sehingga kami kembali ke hotel," ujar Veronica.

6. Wisata ke Himalaya, 4 Pendaki Mapadoks Unissula Selamat

Gempa Nepal (Foto:Reuters)
Empat anggota pecinta alam Fakultas Kedokteran Unissula Semarang, (Mapadoks) berada di pegunungan Himalaya ketika gempa 7,8 Skala Richter mengguncang Nepal. Beruntung mereka selamat dan sudah sempat memberi kabar ke Mapadoks di Semarang, Jawa Tengah.

Ketiga pendaki tersebut adalah dr Novel, dr Koming, dr Minardi, dan dr Budi. Mereka merupakan alumni Unisulla namun tetap sebagai anggota Mapadoks.

"Di rombongan itu ada seorang lagi tapi di luar alumni. Ada yang membawa istrinya," kata pengurus Mapadoks, Emi Latifah saat dihubungi detikcom, Senin (27/4/2015).

Emi mengatakan, empat orang tersebut berangkat menuju Himalaya sejak tanggal 16 April lalu."Memang berangkat untuk berwisata di sana," tandasnya.Β 

Setelah menunggu kabar, para pendaki itu menghubungi Mapadoks dan mengabarkan mereka selamat.
Halaman 2 dari 7
(slm/nrl)


Berita Terkait