Sosiolog Perkotaan dari Universitas Indonesia, Otto Hernowo Hadi, menilai lokalisasi memang bukan solusi terbaik untuk meminimalisir tingginya angka prostitusi di Jakarta. Bak buah simalakama, masalah prostitusi menjadi hal yang sulit diselesaikan.
"Susah kalau bilang prostitusi ada pemecahan masalah. Memang sebagai pemerintah kota lebih mudah melakukan pengawasan, tapi kalau masyarakat masih permisif dan membiarkan begitu saja serta tidak peduli dengan lingkungannya ya saya kira ada lokalisasi atau tidak, (praktik prostitusi tetap) ada," kata Otto saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (25/4/2015) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyoal penggunaan apartemen sebagai tempat mesum, diakui Otto bukan lah hal yang mudah bagi Pamprov untuk mengawasinya satu per satu. Oleh karena itu, dia menyarankan pihaknya mulai jalin kerjasama dengan pihak pengelola dan keamanan setempat.
"Agak sulit bagi pemkot untuk mengetahui, pasti harus bekerjasama juga dengan pengelola apartemen untuk mencegah. Tentu harus komunikasi dengan pengelola apartemen, misalnya buat laporan identitas tanpa juga harus mengambil privasi masing-masing penghuni," kata Otto.
"Itu paling dasar. Jadi ada database penghuni bukan untuk intimidasi, tapi agar bisa mengetahui siapa penghuninya," sambungnya.
Seperti diketahui, polisi telah mengamankan 6 korban praktik prostitusi di Tower J lantai 5 dan Tower H lantai 8 di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan.
Usia 6 korban perempuan itu bervariasi dari usia 20 tahun sampai 16 tahun, bahkan ada yang paling muda berusia 14 tahun. Polisi mengatakan korban berasal dari Bogor, Sukabumi, Bandung dan lain-lain. Mereka bisa disewa dengan tarif Rp 600 ribu - Rp 3 juta.
Didi mengatakan nantinya para perempuan tersebut akan dibawa ke Rumah Perlindungan Sosial Wanita dan Anak di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Polisi mendapatkan lokasi setelah melakukan penelusuran dari sebuah website.
Penggerebekan dilakukan pada Jumat (24/4/2015) malam. Seorang tersangka bernama Faisal alias Ical berhasil diamankan oleh polisi.
(aws/kha)










































