Prostitusi Online Menjamur karena ada 'Demand' dan Sikap Permisif

Prostitusi Online Menjamur karena ada 'Demand' dan Sikap Permisif

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Minggu, 26 Apr 2015 06:30 WIB
Prostitusi Online Menjamur karena ada Demand dan Sikap Permisif
Iluistrasi
Jakarta -

Tingginya angka pengguna sosial media di sejumlah kota besar Indonesia membuat bisnis prostitusi juga semakin liar. Meski bukan lagi hal yang benar-benar baru, namun belakangan publik cukup dikejutkan dengan mudahnya mucikari menjajakan para 'angel'-nya kepada para hidung belang via akun Twitter.

Sosiolog Perkotaan dari Universitas Indonesia, Otto Hernowo Hadi, menyebut menjamurnya penyedia jasa seks itu lantaran tingginya permintaan masyarakat urban masa kini. Didukung juga dengan sikap permisif alias acuh tak acuh dalam masyarakat yang membuat komunitas itu leluasa mengembangkan sayapnya.

"Demand-nya masih ada bahkan meningkat dengan perkembangan zaman dan juga melemahnya pengawasan di masyarakat sendiri. Ditambah lagi dengan sifat permisifnya masyarakat seolah-olah ini bagian dari kehidupan masing-masing, bukan kehidupan sosial. Ini menyebabkan praktek prostitusi ada di mana pun," ujar Otto saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (25/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Zamannya modern teknologi bisa digunakan apa saja. Susah dikontrol sekalipun sama regulator. Di samping itu juga masyarakat kota itu kan mengembangkan hukum ketidakterlibatan, jadi kalau dia ikut di situ jadi persoalan sehingga banyak di antara mereka lebih memilih getting off," sambungnya.

Menurut Otto, maraknya prostitusi merupakan salah satu dari sekian banyak tantangan hidup masyarakat kota modern hari ini. Meski terdengar klise dan idealis, lanjut dia, namun keluarga tetap memiliki peranan paling penting untuk 'membentengi' anggotanya dari hal-hal menjerumuskan seperti itu.

"Harus dilihat peran dari keluarga untuk menyikapi masalah ini. Peranan keluarga harus ditingkatkan terutama dari segi quality time-nya," terang Otto.

"Ini tantangan bagi keluarga modern zaman sekarang, termasuk bagaimana menggunakan media sosial. Jadi memang kita harus memberikan pengertian dan pemahaman mengenai moral terkait dari lingkungan paling dekat (keluarga). Itu tantangan bagi masyarakat kota," pungkasnya.

Seperti diketahui, praktik jual jasa prostitusi di Twitter heboh semenjak ditemukan tewasnya Deudeuh Alfisahrin 'Tataa Chubby' setelah berhubungan badan dengan salah satu pria yang juga pelanggannya di kamar kos. Tataa diketahui menawarkan jasanya melalui akun Twitter untuk kemudian mengatur waktu dengan para tamu.

Selain Tataa, rupanya modus aksi serupa juga dilakukan oleh MS alias Mike, seorang germo yang dikenal dengan nama Papi di jagat Twitter. Melalui akun @Teman**, Papi Mike menawarkan jasa koleksi 'angel'-nya.

Terkini, seorang mucikari bernama Faisal alias Ical juga menjajakan koleksi 'angel'-nya yang berusia antara 16 - 20 tahun melalui salah satu situs. Sebanyak enam 'angel' itu melayani para pelanggannya di di Tower J lantai 5 dan Tower H lantai 8 di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan.

Mereka disewa dengan tarif Rp 600 ribu - Rp 3 juta. Polisi berhasil mengamankan 6 perempuan itu dalam penggerebekan yang dilakukan pada Jumat (24/4/2015) malam.

(aws/kha)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads