"Mau Muhammadiyah, NU, Hindu, Budha, Kristen, Protestan dan para religious leader agama lainnya perlu mengawali perjalanan warga masyarakatnya untuk tidak terjerumus dalam kejadian-kejadian seperti itu," ucap Khofifah saat menjadi pembicara dalam dialog 'Pelajar Lawan Narkoba' di PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya No.62, Jakpus, Sabtu (25/4/2015).
Pasalnya menurut Khofifah, kondisi penyebaran narkoba di Indonesia sudah cukup parah. Bahkan segala sarana digunakan pengedar untuk menyiasati korban yang kebanyakan anak muda.
"Kalau BNN mengatakan Indonesia ini darurat narkoba, kalau saya berpandangan ini bukan lagi darurat yang bahaya tapi ini sudah merupakan teror. Sebagai contoh pernah ada kejadian cucunya ini nggak kenal drugs, tapi karena yang disasar kakeknya, di sebuah parkiran di kampus prestige di Jakarta dia pegang tangan kanan kiri kemudian disuntik, setelah itu dia melihat banyak matahari berkunang-kunang, setelah orang tuanya mencek ternyata di parkiran sebuah kampus prestigious itu dia disuntik narkotika oleh orang tidak dikenal," Khofifah memberi gambaran.
Ia juga kembali mengingatkan kasus brownies yang berisi ganja beberapa waktu lalu, juga kasus-kasus lainnya. Untuk itu, pimpinan agama disebut Khofifah harus membantu orang tua dan pihak terkait lainnya dalam membimbing generasi muda.
"Bahkan ada brownies ganja, permen ganja, obat-obat tertentu yang masuk di apotek-apotek. Bahkan ada anak-anak perempuan pada jenis obat tertentu yang punya kandungan vitamin ternyata terkandung narkotika dimasukkan dalam format obat diet. Perkembangan aneka format narkotika telah dimasuki, makanya kalau tidak dibimbing oleh para religious leader, tentunya peran kepolisian dan BNN maka akan kewalahan. Untuk itu kita harus memberikan pengawalan, agar makin kuat," tutur politisi PKB itu.
Kemensos sendiri, kata Khofifah, telah mengakreditasi Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) dan saat ini sudah ada 119 IPWL dalam akreditasi kemensos. Dikatakan Khofifah, Kemensos kini tengah melakukan pelatihan angakatan pertama di 6 balai besar yang nantinya akan dipekerjakan dan diberi gaji sampai honor selama 8 bulan. Dananya sendiri dari APBNP.
"Baik konselor adiksi dan PSKS adiksi akan memberikan rehabilitasi dengan keagamaan, dari data Kemensos sebanyak 60% IPWL berhasil tidak kambuh dengan peran keagamaan, sedangkan yang tidak direhabilitasi dengan keagamaan sebanyak 80% ini proses rehabilitasi saja setelah didetoks," jelas Khofifah.
"Mereka ini yang sedang addict, 1 menit normal dan 1 lagi melayang-layang, instabilitas ragawinya bisa berubah secepat itu, bonus demografi, sebuah anugrah atau sebuah laknatullah. Sangat banyak masalah, yang terjadi maka selain proses preventif memang kita memerlukan pertolongan Allah untuk kembali membimbing mereka keluar dari jalur yang salah," tutupnya.
(ear/ndr)











































