"Ini masa transisi, masih cukup hangat di laut selatan dan Jawa. Suhu muka lautnya tinggi, ada anomali kenaikan 1,5 derajat. Jadi cukup hangat untuk penguapan dan menjadikan awan di pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, Bali dan NTB," ungkap Kepala Bidang Cuaca Ekstrem BMKG Kukuh Rubidianto saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (25/4/2015).
Suhu muka laut yang tinggi berkaitan dengan penguapan yang cukup banyak dan membuat awan-awan sehingga berpotensi menimbulkan hujan. Pada masa transasi seperti ini, kata Kukuh, angin kencang bisa terjadi karena tumbuhnya awan-awan lokal atau Cumulonimbus (CB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Transisi itu kan biasanya ada puting beliung, hujan es, angin kencang, kalau pun hujan lebat singkat," sambungnya.
Hujan lebat yang melanda wilayah Yogyakarta, Solo dan sejumlah daerah di Jateng yang menyebabkan banjir dan longsor beberapa hari lalu disebut Kukuh terjadi karena adanya transisi ini. Meski begitu, pada masa pancaroba hujan lebat terjadi hanya dalam waktu singkat.
"Hujan lebat atau sangat lebat terjadi singkat, 1-2 jam aja. Kebanyakan sore dan malam hari," pungkas Kukuh.
(ear/bar)











































