Pernah menjadi Duta Besar PBB di Amerika Serikat (AS) dan Perdana Menteri ke 8 tak membuat Ali Sastroamidjojo jemawa. Sosoknya tetap membumi dengan kegemarannya 'jajan' makanan kesukaannya di pinggir jalan, yakni ketoprak.
"(Sukanya) Makan ketoprak. Kan tinggalnya di Jalan Kerawang, Menteng, kalau mau makan ketoprak pergi ke rumah ayah saya. Kakek saya sering pulang siang main ke rumah untuk (makan) ketoprak," cerita cucu dari Ali Sastroamidjojo, Tarida Ali Sastroamidjojo, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (24/4/2015).
Ali tutup usia saat Tari menginjak usia remaja. Selama itu pulalah Tari memiliki banyak kenangan akan sosok sang pendorong digelarnya Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 silam tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kakek saya itu orangnya nggak bedain laki perempuan padahal orang Jawa, nggak pernah membedakan suku, agama sama status sosial. Saya benar-benar rasain di mana waktu beliau kirim surat-surat yang dikirim ke ayah saya waktu tugas jadi Dubes PBB di Amerika. Dari cara bertutur di surat betul-betul nggak ada membedakan status sosial," terangnya.
Selain itu di mata Tari, Ali merupakan pribadi yang berjiwa besar. Hal ini dilihatnya dari mendorong salah satu pamannya (Ali Wardhana) memenuhi permintaan Soeharto memintanya untuk menjadi Menteri Keuangan. Padahal, lanjut Tari, Ali pernah mendapat perlakuan tidak adil saat akhir masa jabatannya.
"Ada cerita kakek saya berjiwa besar terhadap perlakuan Orba, waktu paman saya mau dipilih jadi Menkeu zaman Pak Harto. Waktu itu paman saya masih di Amerika dipanggil Pak Harto, ini cerita dari paman saya (Ali Wardhana) langsung. Beliau minta izin ke Pak Harto, boleh nggak saya konsultasi sama paman saya (Ali Sastroamidjojo). Terus beliau datang ke rumah kakek saya dan kakek jawab 'kalau itu untuk rakyat kamu harus terima'. Paman saya kaget sekali waktu itu," kisah Tari.
"Beliau cerita sebelumnya waktu di jalan sudah siap kalau kakek saya marah dan melarangnya jadi menteri. Namun kakek saya mendukung, jadilah paman saya masuk di pemerintahan Orba," pungkasnya.
Ali Sastroamidjojo adalah diplomat ulung yang pernah dipunyai Indonesia. Ali lahir di Grabag, Magelang, 21 Mei 1903 dan wafat pada 13 Maret 1976. Dia mendapat gelar Meester in de Rechten (sarjana hukum) dari Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1927. Ia juga adalah Perdana Menteri Indonesia ke-8 yang sempat dua kali menjabat pada periode 1953-1955 (Kabinet Ali Sastroamidjojo I) dan 1956-1957 (Kabinet Ali Sastroamidjojo II).
Selain itu, Ali juga sempat menjabat sebagai Wakil Menteri Penerangan pada Kabinet Presidensial I, Menteri Pengajaran pada Kabinet Amir Sjarifuddin I, Amir Sjarifuddin II, serta Hatta I, dan Wakil Ketua MPRS pada Kabinet Kerja III, Kerja IV, Dwikora I, dan Dwikora II.
(aws/nrl)











































