Ali Sastroamidjojo dan Lobi Menundukkan Keraguan India

Peringatan 60 Tahun KAA

Ali Sastroamidjojo dan Lobi Menundukkan Keraguan India

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Jumat, 24 Apr 2015 13:58 WIB
Ali Sastroamidjojo dan Lobi Menundukkan Keraguan India
(Photo by Howard Sochurek/The LIFE Picture Collection/Getty Images)
Jakarta -

Konferensi Asia Afrika (KAA), konferensi akbar yang digelar oleh negara non-adikuasa saat itu, terselenggara pada tahun 1955. Konferensi tersebut tak lepas dari peranan perdana menteri yang kala itu dijabat oleh Ali Sastroamidjojo.

Ali menjadi pelobi ulung sejumlah negara untuk berpartisipasi dalam gelaran KAA. Salah satu negara yang cukup sulit dilobi saat itu adalah India.

"Indonesia melakukan lobi ke beberapa negara Arab dan terutama India, karena India saat itu masih ragu-ragu," terang diplomat tulen Wirjono Sastrohandojo saat berbincang dengan detikcom, Jumat (24/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keraguan India itu disebabkan lebih pada kondisi dunia yang saat itu belum stabil. Di mana sebagian negara peserta yang diundang terbelah akibat perang dingin.

"Waktu itu masih ada perang dingin dan bisa jadi panas karena masih ada bom nuklir yang dimiliki Amerika saat itu, Rusia, Inggris, Perancis dan China. Jadi ada bahaya perang. Untuk itu perlu perdamaian karena perang dingin bisa menjadi perang panas. Jadi itu yang menjadi latar belakang KAA waktu itu," lanjut pria yang pernah menjadi Dubes RI untuk Australia dan Prancis ini.

Setelah mendapat dukungan untuk menyelenggarakan KAA, Ali pun menggelar pertemuan dengan para petinggi negara yang disebut sebagai 'Panca Lima' yakni terdiri dari PM India, PM Birma (kini Myanmar), PM Sri Lanka dan PM Pakistan untuk membahas konsep dan kesiapan penyelenggaraan KAA di sebuah hotel kawasan Bogor, Jawa Barat pada tahun 1954.

"Setelah disetujui, diselenggarakanlah konferensi di Bogor tahun 1954, kalau nggak salah Juli-Agustus. Yang hadir 5 negara itu, di Bogor itulah dipastikan diselenggarannya KAA di Bandung. Indonesia akan menjadi tuan rumah dan dibantu oleh keempat negara itu. Sidang yang dihadiri 29 negara dengan 4 negara di antaranya adalah Afrika di Bogor dan KAA itu Pak Ali bersama Menlu, Bung Karno hanya memberikan pidato pembukaan," jelasnya.

Meski mengaku tidak mengenal sosok Ali secara langsung, namun Wirjono menyebut PM ke-8 itu memiliki kedekatan ideologi kuat dengan Bung Karno. Terutama karena keikutsertaan Ali dalam Partai Nasional Indonesia (PNI).

Nama Ali Sastroamidjojo kembali didengungkan dalam helatan peringatan 60 tahun KAA yang berakhir hari ini, Jumat (24/4/2015). Jasanya sebagai ketua KAA banyak diungkit. Mengingat jasanya yang besar dalam diplomasi Indonesia di dunia internasional, keturunan Ali mengusulkan leluhurnya mendapat gelar pahlawan nasional.

Ali Sastroamidjojo lahir di Grabag, Magelang, 21 Mei 1903 dan wafat pada 13 Maret 1976. Dia mendapat gelar Meester in de Rechten (sarjana hukum) dari Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1927. Ia juga adalah Perdana Menteri Indonesia ke-8 yang sempat dua kali menjabat pada periode 1953-1955 (Kabinet Ali Sastroamidjojo I) dan 1956-1957 (Kabinet Ali Sastroamidjojo II).

Selain itu, Ali juga sempat menjabat sebagai Wakil Menteri Penerangan pada Kabinet Presidensial I, Menteri Pengajaran pada Kabinet Amir Sjarifuddin I, Amir Sjarifuddin II, serta Hatta I, dan Wakil Ketua MPRS pada Kabinet Kerja III, Kerja IV, Dwikora I, dan Dwikora II.

(aws/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads