"Mereka menganggap batu itu susunan meriam kuno, dari besi baja seperti yang ada di tempat lain di Bima," kata Tim Geologi Ekspedisi NKRI 2015 Koridor Kepulauan Nusa Tenggara Subkorwil 4/Bima, Masykur saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (24/4/2015).
Masykur mengatakan, para warga menganggap bukit tersebut, dahulu kala merupakan benteng pertahanan Kesultanan Bima di wilayah timur. Mereka tak berani menyentuh karena kawasan tersebut dianggap keramat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi dalam perjalanan pulang, perahu yang dinaiki para nelayan tersebut oleng hingga nyaris tenggelam. Para nelayan yang merasa ketakutan dan khawatir tenggelam, akhirnya memilih membuang batu yang diambilnya itu ke laut.
"Mereka buang saja batunya ke laut, dan akhirnya selamat, tidak jadi tenggelam. Kalau terus bawa pulang perahunya bisa tenggelam," cerita Masykur.
Dari situlah warga akhirnya tak berani lagi menyentuh bukit tersebut. Mereka hanya berani beraktifitas di bagian perairan untuk mencari ikan dan memancing.
"Ada pertanian musiman dengan jarak 1-2 km dari sana," ujarnya.
Pulau yang berisi bukit batuan heksagonal tersebut memang dikelilingi lautan. Untuk menuju ke sana tim harus menumpang perahu nelayan. Jarak yang harus ditempuh oleh tim dari pulau terdekat menuju bukit batu heksagonal dengan menumpang perahu sekitar 2 jam.
Sementara menurut teori geologi, Masykur menilai batuan tersebut adalah batuan beku dengan struktur columnar joint. Batuan tersebut terbentuk karena proses magmatis alami.
Namun di sisi lain Masykur juga menduga bahwa susunan batuan berbentuk segi enam dengan diameter sekitar 25 cm tersebut adalah candi kuno yang runtuh atau belum selesai dibangun. Hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan dari mana asal-usul batuan unik tersebut. Saat ini Tim Geologi Ekspedisi NKRI 2015 tengah melakukan penelitian lanjutan terkait penemuan batuan tersebut.
(kff/ndr)











































