Heboh Pesta Bikini Anak SMA, Moral Siswa Harus Ditingkatkan

Heboh Pesta Bikini Anak SMA, Moral Siswa Harus Ditingkatkan

Rivki - detikNews
Jumat, 24 Apr 2015 09:30 WIB
Heboh Pesta Bikini Anak SMA, Moral Siswa Harus Ditingkatkan
Jakarta - Kabar adanya pesta usai Ujian Nasional (UN) yang bertema bikini menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan. Peran semua pihak, terutama keluarga menjadi hal utama untuk menumbuhkan nilai moral kepada generasi muda agar hal yang serupa tak kembali terulang.

"Peran orangtua, guru dan tentunya pemerintah. Pemerintah tidak boleh hanya prihatin, karena mereka punya power untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan," ujar sosiolog Musni Umar saat berbincang dengan detikcom, Kamis (23/4/2015).

Selain peran orangtua dan pemerintah, peran sekolah dalam menanamkan nilai moral kepada siswa juga penting. Terlebih ketika tak ada lagi mata pejalaran moral yang diajarkan, maka peran aktif seorang guru penting dilakukan agar budaya global tak mengakar dan menghilangkan budaya bangsa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertama mata pelajaran moral kurang, kedua gurunya tidak memanfaatkan kesempatan ketika berhadapan dengan siswa untuk menanamkan nilai-nilai moral. Kalau untuk mata pelajaran, di negara kita mata pelajarannya terlalu banyak, baik di SD, SMP, termasuk perguruan tinggi," jelasnya.

"Pelajaran moral tidak ada dan guru tidak dilatih dalam mengajar. Tentu berbicara mengenai pentingnya siswa itu mengembalikan cara berpikir dia sesuai mindset sebagai suatu bangsa," sambung Musni.

Melakukan konstruksi kasus dalam masyarakat dan mengajarkannya kepada siswa dirasa dapat membantu mereka untuk memahami pentingnya memiliki nilai moral untuk mempertahankan budaya Indonesia yang bersih dari pengaruh asing.

"Yang bisa dilakukan itu dengan memanfaatkan peran seorang guru ketika berada di depan siswa untuk mengajarkan akhlak mulia, budaya, pancasila dan itu harus ditanamkan kepada mereka. Cara mengajarinya, bisa dengan menceritakan beberapa kasus di masyarakat, lalu dikonstruksi dan disampaikan kepada mereka. Hal itu kita bawa ke dalam kehidupan untuk mencari solusi dari beragam kasus tersebut," kata dia.

"Kuncinya mengembalikan lagi ke bangsa dan negara, berkepribadian dalam budaya dan kepribadian itu harus tercermin dari budaya kita," tutup Musni.

(rvk/rni)


Berita Terkait