Heboh Pesta Bikini Pasca UN, Orangtua Diminta Tingkatkan Peran

Heboh Pesta Bikini Pasca UN, Orangtua Diminta Tingkatkan Peran

Rini Friastuti - detikNews
Jumat, 24 Apr 2015 08:20 WIB
Heboh Pesta Bikini Pasca UN, Orangtua Diminta Tingkatkan Peran
Jakarta - Beberapa sekolah dimuat dalam undangan kegiatan siswa SMA bertema 'Splash After Class', sebuah pesta untuk merayakan selesainya Ujian Nasional bertema bikini. Sekolah tersebut bisa kecolongan kabar itu karena selepas ujian, para siswa telah dikembalikan kepada orangtua.

"Kalau sekolah kecolongan sih bisa saja. Karena setelah UN siswa praktis kembali ke orangtua, kuncinya di orangtua, kalau mengikuti acara seperti itu kan di luar sekolah," ujar pengamat pendidikan, Darmaningtyas saat berbincang dengan detikcom, Kamis (23/4/2015).

Dia juga menilai wajar apabila terjadi kasus seperti itu, karena saat ini pengaruh budaya global dan teknologi memudahkan para remaja mendapatkan akses melakukan hal-hal tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa wajar? yang dilihat di televisi tontonan seperti itu, terus fasilitas lingkungan juga mendukung seperti itu. Apalagi kalau di kota besar seperti Jakarta dan Bekasi yang merupakan kota metropolitan," jelas dia.

"Jadi kalau menurut saya ya wajar, karena mereka sewaktu-waktu bisa buka youtube, bisa menonton film yang menjurus tanpa bisa dikendalikan oleh sekolah, dan itu difasilitasi oleh orangtua," sambungnya.

Dirinya berpendapat, penanaman nilai moral bagi para remaja berpusat pada peranan orangtua. Karena karakter seorang anak dapat tumbuh dan pertama kali berkembang dari lingkungan di rumah mereka.

"Kuncinya di orangtua, bagaimanapun kuncinya orangtua, semua karakter berkat didikan orangtua. Sehingga kita dapat melakukan dengan membentuk direktorat keayahbundaan yang dibentuk untuk mendidik orangtua, bukan anaknya," ungkapnya.

Dia mencontohkan dengan banyaknya remaja yang masih berkeliaran pada malam hari tanpa adanya pengawasan dari orangtua. "Misalnya saya sering sekali melihat anak perempuan nongkrong di luar rumah bahkan sampai pukul 23.00 WIB, kok begitu? ini kan orangtunya yang membiarkan, kan begitu. Jadi jangan disalahkan anaknya dong, tapi orangtua," jelasnya.

Dengan begitu, dirinya menganggap bahwa pentingnya menanamkan nilai moral kepada para remaja menjadi tanggung jawab semua pihak. Ketika pembinaan karakter dan moral dilaksanakan oleh orangtua dan sekolah, maka pemerintah harus memfasilitasi para generasi muda ini untuk berkreasi sesuai dengan minat mereka, tentunya dengan cara yang positif.

"Masalah ini kompoleks ya, masalah ini adalah tanggung jawab semua pihak. Tidak cukup dari agama saja, tapi harus difasilitasi untuk berkreasi. Anak-anak ini didorong dan difasilitasi untuk berkreasi dan berinovasi, jadi dicekoki dengan hal-hal yang positif yang didorong oleh media dan publik," pungkasnya.

(rni/rvk)


Berita Terkait