"Kita siapkan apa yang akan kita jalankan di bawah Asia Africa Center. Kita siapkan progam-programnya, begitu juga modalitasnya kita telah siapkan. Oleh karena itu setelah pelaksanaan KAA ini, kita harus berkomunikasi lagi dengan negara-negara lain. Walaupun ini yang memimpin adalah Indonesia," terang Retno di JCC, Jakarta, Kamis (23/4/2015).
Menurutnya, program seperti ini bukan lagi menjadi hal baru bagi Indonesia. Sebab, sejak jauh hari Indonesia telah menjalin baik hubungan kerja sama di berbagai bidang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, ini sekarang kita lakukan progam yang lebih teratur. Kita ajak negara-negara lain dari Asia Afrika plus negara-negara partner pembangunan kita melalui triangular," tambah Retno.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda ini juga menegaskan dirinya banyak melakukan pertemuan bilateral tidak hanya dengan negara Asia Afrika, tetapi juga negara peninjau (observer) pelaksana KAA yang hadir. Salah satunya adalah Swedia.
Disebutkan Retno, Swedia menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Palestina. Oleh karena itu, Retno berharap dengan hubungan diplomatik yang baik seperti ini ke depannya negara Eropa lainnya juga ikut mendukung.
"Swedia tidak termasuk di Asia Afrika, tetapi hadir sebagai obsever dan dia adalah negara UN (United Nation) yang mengakui palestina pertama kali. Oleh karena itu kita gandeng untuk memberikan kapasitas building kepada Palestina. Ini akan terus kita lakukan, jadi intinya itu," pungkasnya.
(aws/rvk)











































