Polisi: Prostitusi Online Beralih ke Media Sosial Twitter

Polisi: Prostitusi Online Beralih ke Media Sosial Twitter

- detikNews
Kamis, 23 Apr 2015 18:08 WIB
Polisi: Prostitusi Online Beralih ke Media Sosial Twitter
Jakarta - Maraknya situs jejaring sosial yang memudahkan setiap orang untuk berinteraksi di dunia maya, membuat para pelaku prostitusi kini tak lagi menggunakan website atau blog untuk mempromosikan jasa esek-eseknya. Dengan menggunakan situs jejaring sosial seperti Twitter, dirasakan para pelaku prostitusi lebih mudah dalam mendapatkan pelanggan.

"Sekarang mereka tidak lagi membuka website sendiri atau pakai blog, tetapi menggunakan situs jejaring sosial seperti Twitter," ujar Kanit II Vice Control (VC) Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kompol Teuku Arsya Khadafi kepada detikcom saat ditemui di kantornya, Kamis (23/4/2015).

Arsya mengungkapkan, pelaku prostitusi online memilik Twitter karena lebih memudahkan penyedia jasa seks untuk berinteraksi dengan pelanggan. Di samping itu, Twitter digunakan sebagai media untuk menawarkan jasa esek-esek karena tidak terpantau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka mempromosikannya juga lebih mudah, tinggal menuliskan data pribadi seperti tinggi badan, berat badan dan ukuran payudara serta menuliskan rules-nya mereka pada bio akun Twitter," jelasnya.

Dunia maya yang tiada batasnya, diakui Arsya dapat digunakan oleh siapa pun. Teermasuk para pelaku prostitusi ini bisa dilakukan oleh siapa pun di duni maya ini.

"Pelakunya bisa siapa saja, bisa mahasiswi atau model, karyawati, bisa siapa saja. Dan ‎pelanggannya juga bisa siapa saja," imbuhnya.

Di sisi lain, para pelaku prostitusi online menggunakan Twitter karena tidak mudah terpantau. Di samping itu, ‎lemahnya pengamanan media sosial membuat pelaku prostitusi online menjadi tidak terkontrol.

"Sehingga mereeka lebih bebas dalam berinteraksi dan berkomunikasi lewat Twitter itu," cetusnya.

Yang perluu disadari, dengan maraknya prostitusi online ini tidak saja membuat praktik prostitusi semakin merebak. Namun, baik pelaku maupun pengguna bisa menjadi korban dalam praktiknya ini.

"‎Namanya juga kenal di dunia maya, belum tahu siapa orangnya, pelaku prostitusi juga bisa jadi korban pelaku kejahatan yang memanfaatkan jasanya," tuturnya.

Ia mencontohkan seperti kasus John Weku.‎ Kasus ini sempat menjadi fenomenal karena sejumlah mahasiswi cantik hingga model yang menjajakan seks via BBM menjadi korban penipuan John weku.

"Atau seperti kasus Deudeuh yang menjadi korban pembunuhan pelanggannya. Dan pelanggan atau pengguna jasa prostitusi online juga bukan tidak mungkin menjadi korban, seperti misalnya korban penipuan. Sebab beberapa akun alter ada yang menawarkan jasa seks dengan persyaratan harus mentransfer DP (uang muka) dulu, padahal belum tentu benar," tuntasnya.

(mei/ndr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini