"Semoga kita para anggota parlemen dapat turut serta menjaga perdamaian dunia dan menuju kemakmuran. Maka dari itu kita harus melawan kemiskinan. Untuk itu kita dengarkan pemaparan dari perwakilan-perwakilan parlemen," ujar Fadli Zon saat membuka sidang, Kamis (23/4/2015).
Secara bergantian para delegasi dari Malaysia, Timor Leste, Suriah, Kenya, Indonesia, dan lainnya berbicara bergantian. Anggota parlemen Suriah Siti Fatimah kemudian menyampaikan bahwa negaranya sedang dilanda konflik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikutnya anggota Parlemen Kenya Christopher Dolai menyampaikan pandangannya. Dia menyebut bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mempersatukan bangsa Asia dan Afrika.
"Target utama adalah melawan terorisme. Kami telah banyak menjadi korban pembajak Somalia. Banyak anak-anak, pelajar kami yang kehilangan jiwa akibat aksi teror. Kami juga ingin mendapat solusi dari tantangan terorisme," ungkap Dolai.
Selanjutnya anggota Komisi IV DPR Hamdani berbicara mewakili Indonesia. Dalam pernyataannya, Hamdani membahas mengenai perlawanan terhadap kolonialisme.
"Sudah lama kita kelaparan. Pada 1995 kerja sama lebih didorong oleh hal bersifat politik. Kolonialisme belum hilang sepenuhnya dan digantikan bentuk dominasi yang lain," tutur Hamdani.
Dijelaskan pula oleh dia bahwa pada 2005 telah dirumuskan suatu New Asian-African Strategic Partnership. Maka itu saat ini harus diintesifkan kembali mengenai hal tersebut.
"Negara Asia-Afrika berbagi prinsip yang sama bahwa kita lawan imperialisme dan kolonialisme. Kita telah menderita karena eksploitasi," kata Hamdani.
Hingga kini pertemuan masih berlangsung. Rencananya nanti akan ada pernyataan oleh pimpinan sidang mengenai hasil pertemuan.
(bpn/nik)











































