A cry of defiance not of fear,
A voice in the darkness, a knock at the door,
And a word that shall echo for evermore...
Puisi di atas adalah karya pujangga Amerika, Henry Wadsworth Longfellow, menceritakan mengenai kisah seorang pejuang Amerika bernama Paul Revere yang mengendarai kuda menembus kegelapan malam New England untuk mengingatkan kompatriotnya bahwa musuh telah tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penggalan sejarah ini disampaikan oleh Konsul Jenderal RI di Los Angeles Umar Hadi di hadapan sekitar 100 orang umat Kristiani pada Perayaan Paskah Bersama Badan Kerja Sama Gereja-Gereja Indonesia California Selatan (BKS-GICS) di Redlands, California (18 April 2015).
“Di hari yang sama, tepatnya 180 tahun kemudian bangsa Indonesia merubah wajah dunia,” ujar Umar.
Pada hari bersejarah itu, 18 April 1955, di kota Bandung dimulai Konferensi Asia Afrika (KAA). Untuk pertama kalinya, bangsa-bangsa yang tadinya terjajah membuat suatu perkumpulan dan konferensi sendiri.
Presiden Soekarno dalam pidato pembukaan KAA mengutip puisi tentang Paul Revere tersebut.
Di tahun 1955, benua Asia dan Afrika dihuni oleh lebih dari separuh umat manusia di dunia. Namun, di kedua benua itu hanya terdapat 29 negara yang telah merdeka. Sisanya adalah negara-negara yang masih terjajah.
Ke-29 negara itu selanjutnya bergabung untuk secara bersama-sama mencetuskan pengakuan terhadap hak asasi manusia, penghormatan atas kedaulatan seluruh negara, persamaan seluruh ras dan bangsa, serta seruan terhadap perdamaian dunia, yang kemudian dikenal dengan nama Dasasila Bandung.
Umar menegaskan bahwa hasil KAA sangat nyata. Dengan semangat Bandung, bangsa-bangsa yang terjajah berhasil berjuang membebaskan dirinya dari belenggu penjajahan dan memberikan kemerdekaan kepada rakyatnya.
"Dari 29 negara merdeka menjadi lebih dari 100 negara merdeka, bayangkan,” papar Umar.
Apa kaitannya dengan Indonesia? Jelas. Karena Indonesia-lah yang punya ide untuk menyatukan negara-negara di Asia dan Afrika. Suatu ide yang pada zamannya dianggap mustahil, namun berhasil terlaksana.
Jadi, lanjut Umar, Indonesia itu adalah ide. "Kalau kita pinjam tema acara malam ini, Indonesia sungguh telah berbuat sesuatu yang besar untuk kemanusiaan," imbuh Umar sambil menunjuk baliho besar acara di belakangnya.
Menurut Umar, Indonesia adalah ide, gagasan, dan cita-cita. Cita-cita Indonesia tertuang dalam Pembukaan Konstitusi 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia; mencerdaskan kehidupan bangsa; memajukan kesejahteraan umum; dan barangkali jarang ada negara yang memiliki cita-cita "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang didasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial."
“Hari ini, 18 April 2015, bertepatan dengan dua persitiwa bersejarah dan besar itu, saya ingin mengajak masyarakat Indonesia di Amerika Serikat untuk memulai Gerakan Indonesia baru,” cetus Umar.
Lebih lanjut Umar mengatakan bahwa gerakan ini adalah gerakan bersama menuju cita-cita Indonesia, yang dilakukan oleh segenap bangsa Indonesia di mana pun berada.
Dijelaskan, Gerakan Indonesia adalah gerakan yang mengajak terciptanya keamanan bersama serta keamanan dengan sesama. Gerakan Indonesia mengajak semuanya untuk saling mencerdaskan. Gerakan Indonesia mengajak semua untuk hidup secara sejahtera dan adil makmur.
"Dan akhirnya, Gerakan Indonesia mengajak semua untuk membangun dunia yang baru, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," pungkas Umar.
(es/es)










































