Seorang penumpang pesawat Garuda, Radzie, mengatakan, jarak pandang pilot di atas Bandara SIM hanya sekitar satu hingga dua kilometer akibat hujan deras yang mengguyur kawasan bandara. Pilot akhirnya memutuskan untuk mendarat di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara.
"Sekarang kami masih berada di Bandara Kualanamu. Tidak bisa mendarat di Blang Bintang (Bandara SIM) karena hujan deras," kata Radzie, Rabu (22/4/2015) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Radzie, saat pesawat berada di atas langit Aceh, pilot memutuskan untuk menunggu sekitar 15 menit dengan mengitari Pulau Weh, Aceh. Namun karena cuaca tidak bersahabat, akhirnya diputuskan untuk mendarat di Kualanamu.
"Belum tahu kapan berangkat. Ini masih menunggu di Bandara Kualanamu," jelasnya.
Sedangkan VP Corporate Communication Garuda Indonesia, Pujobroto, membenarkan bahwa GIA 146 mengalihkan pendaratan ke Bandara Kualanamu karena cuaca buruk di bandara Aceh.
"Benar. GA 146 berangkat dari Jakarta pukul 12.20 WIB, sampai Aceh seharusnya 13.50 WIB. Cuma di sana saat mau mendarat hujan lebat, sehingga tidak mungkin mendarat karena jarak pandang terbatas," jelas Pujo saat dihubungi detikcom pukul 18.10 WIB.
Jarak pandang minimal untuk pendaratan seharusnya 2 ribu meter atau 2 km, namun saat hujan lebat tadi, jarak pandang hanya 1.000 meter atau 1 km. Maka, sesuai SOP, pilot tak boleh memaksakan pendaratan.
"Akhirnya mendarat di Kualanamu pukul 16.15 WIB. Pukul 18.00 WIB ini sudah bergerak take off dan diperkirakan sampai Banda Aceh pukul 18.50 WIB," imbuhnya.
Selama menunggu di bandara Kualanamu, penumpang sudah diberikan kompensasi. Pesawat berjenis 737-800 yang berisi 160 penumpang itu diperkirakan sampai di Bandara SIM pukul 18.50 WIB.
(nwk/try)










































