Keluar Terpisah dengan PM Abe, Presiden Jinping Lambaikan Tangan

Keluar Terpisah dengan PM Abe, Presiden Jinping Lambaikan Tangan

- detikNews
Rabu, 22 Apr 2015 18:25 WIB
Keluar Terpisah dengan PM Abe, Presiden Jinping Lambaikan Tangan
Shinzo Abe dan Xi Jinping mengapit Jokowi (Istimewa)
Jakarta - PM Jepang Shinzo Abe dan Presiden China Xi Jinping melakukan pertemuan bilateral di sela-sela Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) hari ini. Pertemuan tersebut berlangsung tertutup selama kurang lebih 15 menit.

Pantauan di lokasi, Abe dan Jinping melakukan pertemuan di Ruang Merak 1 JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (22/4/2015) pukul 17.00 WIB. Presiden Jinping telah lebih dulu berada di dalam ruangan tersebut.

Tak ada sepatah dua patah kata pun terucap dari PM Abe saat hendak memasuki ruang pertemuan. Begitu pun saat pertemuan tersebut selesai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Abe dan Jinping tidak keluar bersamaan, melainkan terpisah. PM Abe meninggalkan Ruang Merak 1 dan langsung menuju tangga ke lobby utama.

Tak lama kemudian, Presiden Jinping dengan pengawalan ketat juga menuju tangga yang sama secara terpisah. Tidak ada kata yang terucap darinya, Jinping hanya sempat melambaikan tangan kepada para wartawan yang memanggilnya.

Belum diketahui poin-poin apa saja yang akan dibahas dalam pertemuan bilateral ini. Sebelumnya, PM Abe dan Presiden Jinping tampak duduk berdekatan di upacara pembukaan KAA 2015 pagi tadi. Keduanya dipisahkan oleh Presiden RI Joko Widodo yang duduk di tengah-tengah.

Ini merupakan pertemuan kedua antara Abe dan Jinping. Mereka sebelumnya pernah bersua di pertemuan puncak Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Beijing pada Oktober 2014. Keduanya melakukan perundingan resmi setelah lebih dari dua tahun hubungan kedua negara itu memburuk akibat persengketaan kepulauan di Laut China Timur.

Kepulauan tak berpenghuni tapi secara strategis penting itu dikenal sebagai Diaoyu oleh China dan Senkaku oleh Jepang, dan dikuasai oleh Jepang tapi juga diklaim oleh China.

Keputusan Tokyo untuk membeli tiga dari kepulauan itu dari pemilik swasta berkewarganegaraan Jepang pada bulan September 2012 menyebabkan memuncaknya pertikaian.

(aws/gah)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini