"Mal-mal dan hotel hanya jadi tontonan tak elok di tengah rakyat yang setia mengawal keistimewaan Yogyakarta saat ini. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari pembangunan tersebut," ungkap Direktur Center for Integrated Development and Rural Studies, Francis Wahono dalam acara diskusi Yogya Sold Out di Kampus Fisipol, Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (22/4/2015).
Menurut dia, saat ini tidak ada lagi yang khas lagi di Yogyakarta. Sebutan, citra warga Yogyakarta yang ramah semakin pudar seiring dengan sering terjadinya konflik bernuansa SARA. Cara-cara berjualan yang tidak jujur dengan cara nuthuk rega atau menaikkan harga seenaknya di beberapa objek wisata juga semakin banyak terjadi,
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain lanjut dia, suasana jalanan di Yogyakarta yang semakin semrawut juga dirasakan setiap musim liburan tiba. Dia mencontohkan dulu di Yogyakarta tanpa ada polisi yang berjaga-jaga, orang tidak saling mendahului.
"Kini seolah saling berebut jalan. Itu tak berbeda dengan di kondisi di kota besar seperti Jakarta. Jadi apa yang istimewa dari Yogyakarta sekarang ini?" katanya.
Menurutnya, ciri khas Yogyakarta yang istimewa itu tidak hanya terletak pada bentuk pemerintahan dan penguasa tanahnya saja. Namun justru dari geo-ekologis dalam pembangunan yang ditopang oleh inisiatif rakyatnya.
"Hanya dengan cara itu Jogja Sold Out tidak terjadi," paparnya.
Sementara itu salah satu aktivis Gerakan Jogja Asat, Dodok Putra Bangsa warga kampung Miliran, Umbulharjo Kota Yogyakarta mengungkapkan selama puluhan tahun tinggal di kampung Miliran Semaki tidak pernah mengalami kekeringan atau sumur kering di saat musim kemarau. Namun sejak berdiri salah satu hotel di Jalan Kusumanegara, warga sekitar mengalami kekeringan atau sumur asat di musim kemarau.
Menurutnya pembangunan hotel-hotel justru semakin menekan masyarakat kecil. Masyarakat jadi korban kerusakan lingkungan, salah satunya adalah persoalan air bersih yang selama ini diambil dari sumur.
"Sejak hotel beroperasi 2012 lalu, sumur warga jadi kering. Padahal sejak saya hidup di sini dari kecil sumur tidak pernah kering meski musim kemarau," ungkap Dodok.
Menyikapi hal tersebut, ia bersama warga sempat melakukan protes ke manajemen hotel. Namun tidak mendapatkan respons yang jelas. Warga juga sempat mendatangi pemerintah Kota Yogyakarta untuk melakukan pengawasan penggunaan air sumur dalam hotel yang ada.
"Ironisnya pemerintah kota melalui BLH malah berargumen membenarkan operasional hotel karena dinilai sudah tepat mengambil sumber air dalam yang tidak akan mengganggu sumber air dangkal yang digunakan warga. Kasus ini jelas-jelas sumur warga yang terdampak menjadi kering, tapi didiamkan saja," katanya.
(bgs/rul)











































