Ini Tim di Balik Pidato Lugas Jokowi Saat Membuka Peringatan KAA

Ini Tim di Balik Pidato Lugas Jokowi Saat Membuka Peringatan KAA

- detikNews
Rabu, 22 Apr 2015 13:52 WIB
Ini Tim di Balik Pidato Lugas Jokowi Saat Membuka Peringatan KAA
Presiden Jokowi saat berpidato di peringatan KAA ke 60 (Foto:dokumen detikcom)
Jakarta - Saat membuka peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato yang cukup lugas, langsung kepada sasaran. Siapa yang menyusun pidato tersebut?

Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto mengatakan, pidato Jokowi itu disusun oleh tim substansif KAA. Namun ada tim khusus yang berperan penting.

"Tim Substantif KAA yaitu, KSP, Menlu, Mensesneg, Seskab, dibantu tim khusus, yaitu Rizal Sukma, Sukardi Rinakit, Teten Masduki," ujar Andi lewat pesan singkatnya kepada wartawan, Rabu (22/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andi mengatakan, dalam pembuatannya naskah pidato yang akan dibacakan Jokowi itu melewati pembahasan beberapa kali dan dikoordinasikan dengan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi. Setelah itu, tim berkonsultasi dengan Presiden Jokowi untuk tahap finalisasi.

"Setelah draf awal ada, finalisasi dilakukan melalui beberapa pertemuan langsung dengan Presiden, konsultasi final dengan Presiden dilakukan Minggu (19/4) sore di Istana Merdeka," jelas Andi.

Dalam pidatonya, Jokowi memang 'to the point' menyinggung beberapa persoalan, di antaranya menghentikan ketergantungan kepada IMF, Bank Dunia dan ADB. Jokowi juga menyuarakan untuk mereformasi PBB dan bicara soal kemerdekaan Palestina.

"Makin kentara ketika PBB tidak berdaya, mandat PBB telah menafikan keberadaan badan dunia. Bangsa-bangsa di Asia Afrika mendesak reformasi PBB agar berfungsi optimal sebagai badan dunia yang mengutakaman keadilan bagi kita semua bagi semua bangsa. Bagi saya ketidakseimbangan global semakin menyesakkan dada. Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Kita tidak boleh berpaling dari penderitan rakyat Palestina. Kita harus mendukung sebuah negara Palestina yang merdeka," kata Jokowi.

"Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya dapat diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB adalah pandangan yang usang dan perlu dibuang. Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan pada tiga lembaga keuangan itu. Kita mendesak reformasi arsitektur keuangan global. Saat ini butuh pimpinan global yang kolektif dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit sebagai negara berpenduduk muslim di muka bumi dan Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga di dunia siap memainkan peran global. Indonesia siap bekerjasama dengan berbagai pihak mewujudkan cita-cita itu," tambah Jokowi.


(jor/slm)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads