"Itu punya swasta, bukan punya negara. Saya belum dengar kalau itu punya negara. Karena tak mungkinlah karena menggusur orang saja heboh, apalagi ini membongkar gedung sebesar ini. Kalau tanah ini milik negara terus bangunannya dibongkar pasti heboh," kata Ferry ditemui detikcom di kantornya, Jl Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2015).
Ferry menduga, gedung itu sengaja dirobohkan pemiliknya karena sudah tak terpakai lagi. Saat pembongkaran tidak ada laporan dari kantor walikota atau bupati setempat ke kantornya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya kepemilikan lahan untuk bangunan itu, Ferry menyatakan akan mengecek terlebih dulu. "Saya lagi tunggu data dari BPN Bogor, nanti saya cari tahu dari tanah ini milik siapa, mau dibikin apa dan kenapa dibongkar," katanya.
Setelah bangunan dibongkar pada periode 2013-2014, lahan bekas Garuda raksasa di Cileungsi itu seperti terlantar. Tanah di lokasi bangunan ini dikeruk sehingga menimbulkan lubang-lubang seperti kubangan kecil. Bagian depan lahan juga banyak berdiri lapak-lapak pedagang ilegal.
Informasi yang dikumpulkan detikcom, gedung Garuda itu semula di bawah kelolaan Yayasan Purbhakti Pertiwi pimpinan Mbak Tutut. Gedung yang dibangun tahun 1995 itu semula dimaksudkan untuk wisma atlet guna menyukseskan Sea Games 1997.
(nal/nrl)











































