"Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia dan kami mengambil poin dari itu. Kami mengembangkan kultur maritim, ekonomi maritim, infrastruktur maritim, keamanan maritim, dan kebijakan maritim," tutur Indroyono di Ruang Merak JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (21/4/2015).
Acara ini dihadiri oleh negara-negara anggota Small Island Developing States (SIDS) serta Indian Ocean Rim Association (IORA). Sekitar 75 hingga 100 peserta yang merupakan menteri hadir dalam acara ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus memperhitungkan keuntungan dari industri yang berkelanjutan, termasuk perikanan yang mempergunakan teknologi yang bisa didaur ulang," kata Indroyono.
Mantan Dirjen UNFAO ini juga menyebutkan bahwa rata-rata konsumsi ikan dunia per kapita meningkat dari 9,9 kilogram menjadi 19,3 kilogram per kapita. Di sisi lain industri minyak lepas pantai yang massif dapat berdampak pada ekosistem laut.
"Dengan fakta isu kemaritiman tersebut, perkembangan tujuan kelautan Indonesia sangat bergantung dengan kerja sama global yang melibatkan masyarakat sipil dan industri sebagai satu kesatuan sistem," ungkap Indroyono.
"Ini merupakan desain bahwa konsentrasi pemerintahan Indonesia adalah membawa visi Presiden Jokowi menjadikan Indonesia poros maritim dunia," lanjut dia.
(bpn/aan)











































