Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pun segera menggelar rapat dengan para penanggung jawab keamanan di Jawa Barat (Jabar). Hadir dalam rapat tersebut Gubernur Jabar Sanusi Hardjadinata, Jenderal AE Kawilarang, Kepala Polda, dan Kepala CPM Kolonel Rusli.
PM Ali menginstruksikan mereka untuk memperketat penjagaan keselamatan Zhou. Dia juga menginstruksikan supaya orang-orang Cina yang saat itu sedang berpesta diawasi polisi. Apalagi ada kabar dalam pesta tersebut akan dibagikan pistol dan alat peredamnya untuk membunuh PM Zhou.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih mendapat petunjuk, tetapi Bung Karno justru tak menggubris nota rahasia yang berdasar laporan dinas intelijen cina itu.
Bung Karno meminta semua pihak tidak terlalu membesar-besarkan laporan intelijen itu. Si Bung berfirasat, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa terhadap diri Zhou EnLai.
PM Ali pun tak punya pilihan lain selain mengamankan pawai Bung Karno dan PM Zhou. “Saya tidak punya pilihan lain dan memerintahkan supaya jalan-jalan yang akan dilewati Bung Karno dan Zhou diperketat penjagaannya dengan mengerahkan sebanyak mungkin polisi berpakaian sipil. Memang untunglah tidak ada kejadian pada PM RRT itu, tetapi barulah ketika ia meninggalkan Indonesia, saya dan semua petugas keamanan merasa lega,” tulis Ali dalam buku 'Tonggak-tonggak di Perjalananku', yang dikutip detikcom, Senin (4/20/2015).
Kisah lain tentang hubungan Sukarno dengan PM Zhou Enlai bisa dibaca di majalah detik edisi 177.
(erd/nrl)










































