"Tentunya kita masih membutuhkan adanya bantuan pada sektor keamanan militer, persenjataan, khususnya persenjataan udara. Kami membutuhkan informasi intelijen, dukungan kebutuhan kemanusiaan karena kami memiliki 2 juta pengungsi, dan bantuan kemanusiaan itu senantiasa kami butuhkan apabila ISIS merusak wilayah-wilayah kami, di situlah letaknya bantuan kami butuhkan," tutur Jaafari di Ruang Cendrawasih JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2015).
Dia kemudian menyebutkan bahwa kerja sama dengan Indonesia akan difokuskan pada penanggulangan terorisme. Indonesia juga akan diajak untuk bergabung dalam koalisi internasional yang sudah dibentuk untuk memerangi terorisme bersama dengan Tiongkok, Iran, dan negara-negara lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu Jaafari menilai ada dua cara untuk melawan ISIS, yakni yang pertama adalah melalui jalur militer. Maka dari itu Irak ingin sekali menjalin kerja sama di bidang ini dengan negara-negara yang warganya secara individual masuk ISIS atau pernah ditawan mereka.
"Masalah aspek militer perlu kita hadapi karena kebiadaban mereka dimulai dari kekerasan, kekuatan, maka kita juga harus menghadapi kebiadaban mereka dengan kekuatan juga," ujar Jaafari.
Kemudian Jaafari juga menilai bahwa cara lainnya lewat jalur budaya. Dia meminta media-media untuk tidak mengidentikkan ISIS dengan ajaran agama Islam. Selain itu media juga diminta untuk tidak membuat provokasi dengan menerbitkan hal-hal yang dapat menimbulkan reaksi.
"Juga ada sebuah fenomena dimana emosi umat Islam diprovokasi yaitu dengan memunculkan gambaran-gambaran yang negatif tentang sosok kepribadian Nabi Muhamamd dan karena itu muncul film-film, media-media yang memperburuk citra agama Islam dan sosok Nabi Muhammad," sebut Jaafari.
(bpn/fjr)











































