Usai Temui Menlu RI, Menlu Irak: Kami Butuh Bantuan Militer untuk Perangi ISIS

Usai Temui Menlu RI, Menlu Irak: Kami Butuh Bantuan Militer untuk Perangi ISIS

- detikNews
Minggu, 19 Apr 2015 21:30 WIB
Usai Temui Menlu RI, Menlu Irak: Kami Butuh Bantuan Militer untuk Perangi ISIS
Menlu Irak
Jakarta - Di sela-sela peringatan KAA rupanya dimanfaatkan oleh Menlu Irak Ibrahim Al Jaafari untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu RI Retno LP Marsudi. Usai pertemuan, Jaafari mengaku telah bahas isu terorisme dan kemudian bicara soal ISIS.

"Tentunya kita masih membutuhkan adanya bantuan pada sektor keamanan militer, persenjataan, khususnya persenjataan udara. Kami membutuhkan informasi intelijen, dukungan kebutuhan kemanusiaan karena kami memiliki 2 juta pengungsi, dan bantuan kemanusiaan itu senantiasa kami butuhkan apabila ISIS merusak wilayah-wilayah kami, di situlah letaknya bantuan kami butuhkan," tutur Jaafari di Ruang Cendrawasih JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2015).

Dia kemudian menyebutkan bahwa kerja sama dengan Indonesia akan difokuskan pada penanggulangan terorisme. Indonesia juga akan diajak untuk bergabung dalam koalisi internasional yang sudah dibentuk untuk memerangi terorisme bersama dengan Tiongkok, Iran, dan negara-negara lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita menyaksikan adanya pembunuhan, pemenggalan kepala warga tidak berdosa, penganiayaan anak kecil tentu tidak perlu kami tegaskan tentang kekejaman dan kebiadaman ISIS. Kita semua menyaksikan kekejaman itu," imbuh Jaafari.

Untuk itu Jaafari menilai ada dua cara untuk melawan ISIS, yakni yang pertama adalah melalui jalur militer. Maka dari itu Irak ingin sekali menjalin kerja sama di bidang ini dengan negara-negara yang warganya secara individual masuk ISIS atau pernah ditawan mereka.

"Masalah aspek militer perlu kita hadapi karena kebiadaban mereka dimulai dari kekerasan, kekuatan, maka kita juga harus menghadapi kebiadaban mereka dengan kekuatan juga," ujar Jaafari.

Kemudian Jaafari juga menilai bahwa cara lainnya lewat jalur budaya. Dia meminta media-media untuk tidak mengidentikkan ISIS dengan ajaran agama Islam. Selain itu media juga diminta untuk tidak membuat provokasi dengan menerbitkan hal-hal yang dapat menimbulkan reaksi.

"Juga ada sebuah fenomena dimana emosi umat Islam diprovokasi yaitu dengan memunculkan gambaran-gambaran yang negatif tentang sosok kepribadian Nabi Muhamamd dan karena itu muncul film-film, media-media yang memperburuk citra agama Islam dan sosok Nabi Muhammad," sebut Jaafari.

(bpn/fjr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads