Seperti diceritakan calon pemudik Untung Prasojo yang berburu tiket KA lebaran pada H-1 atau pada tanggal 16 Juli 2015 pada 16 April 2015 lalu. Kereta incarannya adalah relasi Gambir-Klaten dengan jumlah 3 lembar tiket.
"Pada pukul 00.23 WIB saya mulai membuka aplikasi KAI access dan mencoba telepon KAI 121, tetapi telepon 121 tidak dapat terhubung. Saya putuskan untuk hunting via aplikasi saja. Mulai dari pukul 00.30 WIB aplikasi terasa berat/lama dalam membuka halaman, dan setiap terbuka keterangan seat selalu sudah habis," jelas Untung dalam emailnya kepada suara pembaca detikcom, Minggu (19/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekedar catatan untuk mengisi kolom jumlah pembelian tiket hendaknya diisi 1 saja, walau kebutuhan sebenarnya lebih dari 1. Cara 'mencicil' ini sangat efektif. Toh yang terpenting dapat seat dan naik kereta denan rangkaian gerbong yang sama bukan? Toh di atas kereta kita masih bisa utk saling bertukar seat dengan penumpang lain kan?" tulis Untung.
Sedangkan Endy Prayudi pernah mencoba menyiasati tiket mudik ini dengan 'lompat katak' alias transfer dan pindah kereta.
"Saya beli tiket tujuan Tulungagung. Jurusan langsung Jakarta-Tulungagung biasanya Matarmaja atau Majapahit sudah habis. Terpaksa estafet
dari Senen-Tegal. Kemudian Tegal-Semarang naik KA lokal Kaligung Mas, kemudian dari Semarang-Tulungagung naik Matarmaja. Waktu memang lebih panjang 7-8 jam dan ada biaya tambahan," ujar Endy yang tahun ini mengincar tiket tambahan dan mudik gratis dari Kemenhub ini.
Siasat estafet juga dipakai Akhmad Arifianto. Tahun 2014 lalu, Akhmad harus mudik ke Sidoarjo dengan rute memutar yakni Jakarta-Bandung-Sidoarjo. Dengan menyiapkan rute estafet pula Akhmad membeli tiket untuk keberangkatan 13 Juli 2015 pada 13 April 2015 lalu. KA incarannya KA Gaya Baru ekonomi.
Caranya menjelang tengah malam, Akhmad dan istri sudah menyiapkan alat perang berupa 1 ponsel Android untuk mengakses aplikasi KAI Access, 1 BlackBerry untuk situs reservasi tiket KAI hingga HP lawas untuyk mengakses call center KAI 121.
"Dan tentu saja alat tulis yang isinya berbagai rute alternatif perjalanan kereta api," tuturnya.
Pukul 23.30 WIB, Akhmad telepon 121 dan tersambung namun belum dilayani karena belum masuk pukul 00.00 WIB. Kemudian telepon 121 lagi pada pukul 23.50 WIB dan langsung dilayani meski menunggu hingga pukul 00.00 WIB.
"Saya dipandu untuk input data penumpang dan alhamdulillah pukul 00.12 WIB transaksi saya selesai. Saran saja buat teman-teman yang masih belum dapat tiket, masih ada tiket tambahan/KA Sapu Jagad dan jangan lupa, buat rute alternatif dengan melakukan perjalanan estafet," pesan dia.
(nwk/nrl)











































