"Kupikir kalian semua sangat menyadari ini, yaitu komunisme!" kata Fadhel seraya mengacungkan jari telunjuknya ke depan, ke arah sejumlah kepala negara dan delegasi yang hadir dalam KAA waktu itu.
Suasana yang awalnya adem ayem pun mendadak tegang. Para kepala negara dan anggota delegasi peserta Konferensi Asia Afrika 1955 terkejut, tak terkecual PM India Nehru dan PM Indonesia Ali Sastroamidjojo sebagai tuan rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komunisme juga disebutnya sebagai agama yang subversif. "Komunisme menimbulkan permusuhan di antara golongan kelas dan rakyat," katanya di podium.
Soal sikap anti-komunis juga disuarakan secara silih berganti oleh delegasi dari Filipina, Jepang, Vietnam Selatan, Srilanka, Pakistan, dan Turki. Mereka juga menyerang soal kebebasan beragama di Cina, serta kegiatan subversif Negeri Tirai Bambu di luar negeri. Mereka rata-rata menyampaikannya lewat pidato yang provokatif.
Pidato yang tanpa tedeng aling-aling itu jelas dialamatkan kepada delegasi Republik Rakyat Cina yang dipimpin langsung Perdana Menteri Zhou Enlai. Bagaimana reaksi PM Zhou?.
Ternyata PM Zhou menunjukkan sikap kenegarawanan yang mumpuni. Tak sekalipun dia terpancing oleh provokasi tersebut. Dalam pidato balasannya, Zhou justru menekankan pentingnya persatuan untuk melawan aneka bentuk kolonialisme yang dialami oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
โDelegasi Tiongkok datang dengan tujuan mencari persatuan, bukan untuk mencari perselisihan. Tidak ada gunanya menyodorkan ideologi atau perbedaan di antara kita. Kita datang kemari untuk menemukan persamaan pandangan,โ begitu kata PM Zhou seperti ditulis Han Suyin dalam buku Zhou Enlai, Potret Seorang Intelektual Revolusioner yang diterbitkan Hasta Mitra, 2008 dan dikutip detikcom, Minggu (19/4/2015).
Pidato Zhou Enlai mampu meredakan ketegangan di gedung Merdeka kala itu. Dan PM Zhou Enlai pun menjadi bintang podium. Kisah PM Zhou selengkapnya bisa dibaca di Majalah Detik edisi 177 (20-26 April 2015).
(erd/nrl)











































