Usai menyusuri Wanam, tim satgas anti maling ikan kembali ke Jakarta untuk merumuskan hasil sidaknya kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Satgas, sebelum ke Jakarta, harus ke Merauke dari kampung Wanam.
Jarak yang ditempuh bisa dibilang cukup ekstrem. 26 jam menyeberangi laut Arafuru dan ditemani gelombang yang cukup membuat tubuh menjadi pusing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Ketua Tim Satgas, Yunus Husein yang biasa terlihat garang di depan pelaku maling ikan, sedikit mengerucut. Yunus memilih berada di buritan untuk menghindari guncangan kapal karena ombak.
Hampir sepanjang perjalanan para tim satgas memilih tidur di kamar yang ada di Kapal Hiu Macan 03 dan 04. Maklum saja, tidur merupakan cara satu-satunya mencegah mual akibat goyang gelombang laut Arafuru.
Sabtu (17/4/2015) tim Satgas tiba di Pelabuhan Merauke setelah mengalami perjalanan yang melelahkan. "Sehat semuanya?" tanya Yunus kepada seluruh anggota rombongan.
Sebagian memilih menjawab sehat tapi sebagian lagi memajang mimik teler. Meski sudah dihujani gelombang, Yunus mengaku tidak kapok. Menurutnya, inilah tugasnya bersama rekan-rekannya untuk menjaga kekayaan laut Indonesia dari tangan para penjahat.
Selama sidak di Wanam, Yunus mengaku timnya hanya menemukan kesalahan administrasi dari perusahaan ikan yang dia periksa. Diduga perusahaan itu memperkerjakan ABK asal Cina tanpa izin yang semestinya.
"Pasti akan kita laporkan ke Ketua Satgas untuk disampaikan ke Ibu Menteri," ujar Yunus di akhir perjalanan 26 jam menelusuri laut Arafuru.
(rvk/gah)











































