DetikNews
Sabtu 18 April 2015, 03:09 WIB

Cerita Caregivers yang Mendampingi Keluarga Korban QZ8501

- detikNews
Cerita Caregivers yang Mendampingi Keluarga Korban QZ8501 Pavita, salah satu caregivers yang mendampingi keluarga korban QZ8501
Jakarta - Insiden jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 meninggalkan banyak cerita. Salah satunya adalah hubungan kedekatan yang terjalin antara caregivers dari pihak maskapai dengan keluarga korban yang masih terus terjalin meski proses SAR sendiri sudah usai.

Caregivers merupakan staf-staf AirAsia yang menjadi volunteer untuk mendampingi keluarga korban. Ada yang dari jajaran staf ground, teknisi, bahkan pilot AirAsia. Satu keluarga mendapat pendampingan satu caregiver yang akan mengurus apapun yang diperlukan pihak keluarga korban, bahkan untuk teman cerita sekalipun. Salah satunya adalah Pavita Vania Wayong yang mendampingi korban berkewarganegaraan asing.

Pavita bercerita, tak mudah awalnya menjalin komunikasi dengan keluarga korban sebab mereka masih dirundung emosi menerima kenyataan pedih itu. Perempuan berumur 25 tahun itu tak putus asa, meski harus kerap menerima pelampiasan emosi keluarga korban, ia terus berusaha mendampingi.

"Kesulitannya mungkin di emosi. Sedikit-sedikit mereka nangis, nyalahin kita sebagai pihak maskapai. Tapi bagaimana caranya agar mereka percaya sama kita. Pendekatan harus baik, terus jalin komunikasi dengan mereka. Apapun kebutuhan mereka, kita berikan. Keluarga ini butuh waktu lebih panjang untuk membuat mereka bisa percaya lagi. Ini istri dan ibu korban, mereka orangnya detail-detail sekali," ungkap Pavita bercerita usai acara syukuran selesainya SAR AirAsia di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalteng, Kamis (16/4/2015).

Selama proses pencarian dan evakuasi, keluarga korban datang dari luar Indonesia dan menunggu di Surabaya. Pavita senantiasa menemani mereka, bahkan saat sedang tidak bersama, komunikasi selalu tetap ada.

"Kadang komunikasi lewat HP, tiap hari telepon kalau sudah di kamar hotel. Kan kami waktu itu satu hotel. Kalau caregivers di AirAsia kebanyakan yang dipilih dari front liner. Satu staf mendampingi satu keluarga, sehingga tahu dari awal hingga akhir informasi mengenai mereka," terang Guest Service Assistant AirAsia Bali itu.

Setiap keluarga korban mendapat perlakukan yang sama dari tiap-tiap caregivers. Bahkan tiap satu keluarga memiliki semacam buku diary agar caregivers tidak lupa apa yang diinginkan pihak keluarga, termasuk catatan-catatan keperluan mereka lainnya. Pavita sendiri mengaku banyak belajar dari peristiwa yang menimpa tempatnya bekerja itu.

"Aku banyak belajar diri sendiri. Harus bisa nahan diri, tahu sabar, bagaimana handle orang yang bener-bener lagi bingung, harus bisa nahan emosi. Kita harus pinter-pinter pilih bahasa. Tapi saya juga dibantu temen lainnya," tutur Pavita.

Hubungan Pavita dengan keluarga yang didampinginya pun akhirnya kian akrab dan bahkan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Saat istri dan ibu korban sudah kembali ke negaranya, Pavita bahkan terbang langsung ke rumahnya untuk membawakan barang milik korban yang ditemukan Basarnas.

"Sampai sekarang masih intens komunikasi, terakhir minggu lalu. Basarnas nemuin barang, jam tangan korban yang memang agak priceless. Aku ke kediaman mereka di luar negeri nganterin sendiri barangnya. Keluarganya memang nyari barang itu. Aku disambut baik, kami sudah terjalin hubungan keluarga," ucap perempuan berambut panjang tersebut.

"Pelajaran yang aku ambil dari ini semua, keluarga itu utama. Aku jadi belajar lebih humble, itu proses pendewasaan diri. Proses ini luar biasa. Memang jujur sulit, saat melihat berita, aku jadi ngerasa ini (keluarga korban) seperti keluarga aku, temen-temen aku sendiri. Aku jadi ngerasa bagian dari mereka," imbuh Pavita.

Menurut Director of Safety and Securty AirAsia Indonesia, Capt. Achmad Sadikin yang memimpin caregivers ini, tim pendamping keluarga korban tersebut sebelum terjun telah melakukan training. Pelatihan gawat darurat di Bandara juga sudah menjadi agenda rutin 2 tahunan oleh pihak maskapai.

"Sebagai kewajiban airlines untuk punya panduan dalam keadaan bahaya. Salah satunya family assistance, ini sudah dimulai 2012. Setiap kecelakaan ada trauma yang harus ditangani," jelas pria yang akrab dipanggil Capt. Diki itu.

Untuk pendampingan pada insiden QZ8501 sendiri awalnya diturunkan secara bertahap. Bagi yang sudah terlatih, mereka memberikan briefing kepada staf-staf lainnya yang ingin menjadi relawan dengan menjadi caregivers.

"Itu kami buka volunteer. Training dua hari, teori sampai bagaimana digambarkan ada kecelakaan dan mendampingi korban yang mengalami trauma. Caregiver ini sebagai perantara antara keluarga korban dan management. Kami menangani keinginan mereka, itu melalui mereka," tukas Diki.

Meski crisis center AirAsia telah ditutup pertengahan Maret lalu, kata Diki, para caregivers ini sampai sekarang masih banyak yang berhubungan dengan keluarga yang mereka tangani. "Masih ada keluarga yang menghubungi secara pribadi, kami bahkan buka call center sendiri, kami masih menerima beberapa informasi. Keluarga korban juga masih tetap bisa menghubungi kami jika membutuhkan sesuatu," tambahnya.

Sementara itu salah seorang keluarga korban, Daryanto menyatakan merasa tertolong dengan adanya caregivers dari AirAsia. Ia adalah kakak dari korban AirAsia bernama Indriani yang jenazahnya hingga saat ini belum ditemukan.

"Pendampingannya bagus. Kalau kita butuh sesuatu mereka membantu. Baik ya, setiap keluarga didampingi oleh satu orang," kata Daryanto dalam kesempatan yang sama.


  • Cerita Caregivers yang Mendampingi Keluarga Korban QZ8501
    Pavita, salah satu caregivers yang mendampingi keluarga korban QZ8501
  • Cerita Caregivers yang Mendampingi Keluarga Korban QZ8501
    Pavita, salah satu caregivers yang mendampingi keluarga korban QZ8501

(ear/kha)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed