TPF Munir Kecewa Pengamanan Bandara Sukarno-Hatta
Sabtu, 12 Feb 2005 00:14 WIB
Jakarta - Tim Pencari Fakta (TPF) kasus tewasnya aktivis HAM Munir, menyesalkan lemahnya pengamanan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pengamanan bandara dianggap tidak profesional, bahkan terkesan sangat konvensional.Ternyata close circuit television (CCTV) atau biasa disebut kamera pelacak tidak bisa menangkap gambar alm. Munir karena minimnya fasilitas. Hal ini terungkap dalam pertemuan TPF dengan jajaran direksi Angkasa Pura, Jumat (11/2/2005).Ketua TPF Brigjen Pol Marsudi Hanafi beserta anggota TPF lainnya sempat bertemu jajaran direksi Angkasa Pura yang dipimpin langsung Dirut PT Angkasa Pura II Edie Haryoto. Pertemuan berlangsung singkat dari pukul 14.30 hingga 16.30 WIB.Semula TPF hendak meminta langsung kepada Angkasa Pura selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta untuk memberikan hasil rekaman CCTV tanggal 6 September 2004. Hari itulah Munir take off dari Jakarta menuju Belanda untuk meneruskan pendidikan."Mereka menjelaskan bahwa memang pada hari itu gambar almarhum tidak terekam. Karena pengamanan CCTV di bandara menggunakan sistem Random," ujar anggota TPF Usman Hamid kepada detikcom diujung telepon selularnya, Jumat (11/2/2004).Usman menjelaskan, seharusnya Bandara Sukarno-Hatta yang notabene adalah Bandara Internasional memiliki sistem pengamanan yang optimal. Terlebih setelah peristiwa pengeboman di bandara pada 27 April 2003 lalu yang dilakukan oleh separatis GAM."Seharusnya pengamanan bisa dilakukan secara optimal, itukan janji mereka untuk meningkatkan pengamanan setelah peristiwa pengeboman di bandara. Mengapa kok sistem pengamanannya sangat lemah?" sesal Usman.Menurut Usman, seharusnya seluruh proses lalu lintas manusia di Bandara dapat terlacak oleh CCTV. Mulai dari lobby, lounge, lorong-lorong, meja boarding pass, juga ruang tunggu bandara terdapat alat pendeteksi. "Tapi mereka beralasan fasilitas yang mereka miliki sangat terbatas, konvensional. Bahkan system perekamannya masih menggunakan pita VHS dan dilakukan secara random (acak)," ungkapnya.Menurut Usman, dari rekaman CCTV tersebut setidaknya bisa terlacak apa saja aktivitas almarhum setibanya di bandara, dengan siapa Munir bertemu dan berkomunikasi. Bahkan ada beberapa point penting yang rencananya akan dicocokkan antara rekaman CCTV dengan temuan baru TPF."Tapi percuma saja, walaupun terekam, ternyata Munir 'hilang'," keluhnya.
(fab/)











































