Kasus 'Tataa Chubby' Menguak Prostitusi di Kos, Pemprov DKI Harus Tegas

Kasus 'Tataa Chubby' Menguak Prostitusi di Kos, Pemprov DKI Harus Tegas

- detikNews
Kamis, 16 Apr 2015 14:28 WIB
Kasus Tataa Chubby Menguak Prostitusi di Kos, Pemprov DKI Harus Tegas
Jakarta - Rumah kos tempat praktik prostitusi terkuak setelah munculnya kasus pembunuhan terhadap Deudeuh Alfisahrin alias Tataa_chubby. Fraksi PKB di DPRD‎ DKI meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dipimpin Gubernur Basuki T Purnama (Ahok) bisa lebih tegas mengatasi persoalan ini.‎

"‎Pemerintah harus tegas. Kos-kosan harus didata benar, pengelola kos juga harus jelas‎," kata Ketua Fraksi PKB DPRD DKI Hasbiallah Ilyas saat berbincang, Kamis (16/4/2015).

Rumah kos mesum haruslah disikapi dengan serius. Razia-razia harus digelar‎ untuk memastikan bahwa rumah kos yang tersebar di Ibu Kota tidak disalahgunakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"‎Kos-kosan harus dirazia. Saya yakin Polda sudah tahu, Polisi ini hebat kok," kata Hasbiallah.

Bahkan bila perlu, rumah-rumah kos bisa diminta pajak oleh Pemprov DKI. Namun selama ini pajak dari rumah kos tidak dipungut karena memang belum ‎ada Peraturan Daerah yang menjadi payung hukumnya.

"Seharusnya Pemerintah DKI tegas. Bagaimana pemerintah ditertibkan. Di Tebet itu bukan hal baru, tapi dari '98 saya sudah dengar ada prostitusi. cuma penertibannya sudah ada. Kita sudah pernah usulkan Dinas Sosial, tolong ditertibkan," katanya.

Lebih lanjut, pemerintah perlu segera melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat. Pembinaan terhadap pekerja seks komersial perlu terus digalakkan dan penyediaan lapangan pekerjaan juga harus dipikirkan. Ini agar PSK-PSK bisa dibina keluar dari pekerjaan lamanya.

"‎Lagipula, APBD kita besar kok. Kita harus berpikir yang dicanangkan Presiden Jokowi soal revolusi mental," kata dia.

Meski setuju penertiban, namun Hasbi‎allah bukannya setuju dengan pembentukan lokalisasi prostitusi baru. Dia menyatakan tersebarnya lokalisasi di berbagai tempat karena disebabkan faktor pengelolaan sebelumnya.

"Ini kesalahan pemerintah sebelumnya juga. Seharusnya dulu waktu Kramat Tunggak jadi Islamic Center, seharusnya pemerintah melakukan pembinaan. Memang, kita tidak mungkin menghilangkan prostitusi dari Ibu Kota," katanya.‎

(dnu/mad)


Berita Terkait