"Semoga yang terbaik untuk semuanya. Semoga bisa 'ngebenerin' citra Polri yang buruk. Sekarang kan citra Polri buruk karena oknum," kata Fakhri kepada wartawan usai pertemuan yang digelar di kediaman pribadi Badrodin, Jalan Moch Kahfi I, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2015).
"Saya percaya bapak, apapun keputusan yang diambil pasti yang terbaik," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat kepolisian, Aqua Dwipayana, menilai pesan khusus Fakhri kepada ayahnya tersebut perlu diapresiasi.
"Pesan khusus yang disampaikan Fakhri kepada ayahnya perlu diapresiasi. Secara jujur dia mengatakan bahwa citra Polri saat ini buruk. Sehingga berharap banyak pada Badrodin untuk membenahinya," ungkap Aqua, Kamis (16/4/2015).
Aqua menambahkan, pesan dari Fakhri kepada ayahnya merupakan ungkapan yang jujur dari seorang anak kepada Bapaknya yang telah sekitar 33 tahun bertugas di Polri. Realitanya memang seperti itu.
Setelah Presiden Jokowi pada 16 Januari 2015 mengumumkan pemberhentian Jenderal Pol Sutarman sebagai Kapolri dan mencalonkan Kalemdikpol Komjen Pol Budi Gunawan sebagai Kapolri, mulai terjadi gejolak yang luar biasa di Polri. Kondisi itu diperparah perseteruan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Akibatnya banyak tuduhan negatif yang diarahkan ke Polri. Paling menonjol adalah melakukan kriminalisasi terhadap para pimpinan KPK dan orang-orang yang bersimpati ke KPK dalam pemberantasan korupsi di tubuh Polri.
Menurut Aqua yang sekitar tujuh tahun terakhir intens mengamati Polri, untuk memperbaiki citra Polri agar jadi lebih baik, ada dua hal mendasar yang perlu menjadi perhatian Badrodin.
"Pertama, pembenahan komunikasi di internal. Selama ini komunikasi sesama anggota Polri masih lemah. Hal itu menimbulkan masalah dan pengaruhnya sangat besar pada kinerja Polri secara keseluruhan," ujar pakar komunikasi ini.
Padahal, lanjut mantan wartawan harian Jawa Pos dan Bisnis Indonesia ini, komunikasi sangat penting dalam mensukseskan tugas-tugas di Polri. Sebagian besar membutuhkan komunikasi yang efektif, lancar, dan tanpa hambatan.
Kandidat doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini mengamati di antara para jenderal bintang empat yang pernah menjadi Kapolri belum ada satu pun yang serius dan sungguh-sungguh secara intens memperbaiki komunikasi di internal Polri.
Perbaikan tersebut, lanjut Aqua, bisa dilakukan salah satunya di semua lembaga pendidikan di Polri. Tapi kenyataannya sampai saat ini mengenai komunikasi belum menjadi prioritas untuk dibenahi di sekolah-sekolah resmi milik Polri.
Kalau komunikasi di internal Polri mau bagus, ujar mantan anggota Tim Seleksi Menteri detikcom ini, harus dimulai dari lembaga pendidikan Polri yang paling bawah. Kurikulumnya dibuat secara komprehensif dan berkesinambungan sehingga setiap anggota Polri mengikuti tahapan-tahapan pendidikan di bidang komunikasi.
"Jika komunikasi di internal dapat segera dibenahi saya sangat optimis komunikasi eksternal Polri akan baik. Sehingga keberadaan Polri sepenuhnya didukung masyarat dan seluruh program kerja yang telah dicanangkan dapat dilaksanakan secara optimal," ujar Aqua yang pernah mengajar Komunikasi di Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri.
Masalah kedua di Polri menurut penulis buku-buku best seller ini adalah di bidang sumber daya manusia (SDM). Sampai sekarang dalam mutasi dan promosi anggota Polri kriteria yang digunakan belum standar. Kalau pun sudah ada Standar Operasional Prosedurnya namun dalam penerapannya tidak konsisten.
Akibatnya banyak anggota Polri yang kecewa dan frustasi. Mereka merasa sudah berbuat yang terbaik untuk institusi dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya tapi tidak dipromosikan.
"Sampai sekarang belum ada parameter yang jelas terhadap keberhasilan seseorang di jabatan yang disandangnya. Misalnya kriteria penilaian terhadap seorang Kapolres dan Kapolda," ungkap Aqua.
Organisasi yang profesional dan maju, menurut motivator nasional yang telah memotivasi ratusan ribu anggota Polri ini, biasanya mengedepankan sistem serta jelas hadiah (reward) buat anggota berprestasi dan hukuman (punishment) untuk anggota yang berbuat salah atau melanggar aturan. Sehingga pemimpinnya yang silih berganti tidak ada masalah sebab sistemnya sudah jalan.
Para anggota organisasi kata Aqua jadi paham tentang penghargaan yang diterimanya jika berprestasi. Sebaliknya juga mengerti sanksi atau hukuman yang diperoleh jika melanggar.
Meskipun Badrodin tidak begitu lama jadi Kapolri, hanya sekitar 15 bulan (pensiun 24 Juli 2016 -red), laki-laki yang berasal dari Umbulsari, Jember, Jawa Timur ini, diharapkan mampu membawa perubahan Polri secara signifikan kearah yang lebih baik.
"Jika Pak Badrodin mau dicatat dalam sejarah sebagai Kapolri yang membawa perubahan positif pada organisasi yang dipimpinnya maka beliau harus fokus pada pembenahan komunikasi internal dan SDM. Dua hal itu sangat penting dan mendasar sekali pada peningkatan kinerja Polri secara keseluruhan," pungkas Aqua yang berharap pencalonan Badrodin mulus sehingga Polri segera punya pimpinan yang defenitif.
(mad/mad)










































