Kabasarnas Usul Nama Korban QZ8501 Dipahat di Monumen Keselamatan

Kabasarnas Usul Nama Korban QZ8501 Dipahat di Monumen Keselamatan

- detikNews
Rabu, 15 Apr 2015 18:08 WIB
Kabasarnas Usul Nama Korban QZ8501 Dipahat di Monumen Keselamatan
Pangkalan Bun - Pemerintah daerah Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, sedang membangun Monumen Keselamatan Penerbangan untuk mengenang insiden jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Kepala Basarnas Mardya FHB Soelistyo memberi masukan agar nama-nama korban pesawat jenis Airbus tersebut dipahat sebagai prasasti.

"Satu saran, ada jenazah korban yang belum ditemukan. Mungkin ada baiknya dibangun prasasti yang ada nama-nama korban jadi keluarganya bisa datang ke sini untuk mengenang, sambil tabur bunga," ungkap Soelistyo di lokasi peletakkan batu Monumen Keselamatan di kawasan Pantai Umbang, Kumai, Kobar, Rabu (15/4/2015).

Bantuan dari berbagai unsur dalam proses SAR QZ8501 menurut Kabasarnas merupakan pelajaran penting yang perlu dijadikan pelajaran. Bahkan karena itu, Basarnas menjadikan sejumlah tokoh yang membantu sebagai warga kehormatan Basarnas, termasuk 3 nelayan Pangkalan Bun yang menjadi saksi kunci.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sebagai penanggung jawab SAR, memanfaatkan momentum kegiatan ini mengangkat bagian dari tim SAR khususnya dari nelayan dan pejabat yang langsung turun terjun tanpa ada alasan atau niat lain selain membantu," kata Soelistyo.

"Keberhasilan tidak hanya tergantung pada institusi. Itu keseimbangan dengan memberikan penghargaan. Semoga 3 nelayan ini bisa jadi embrio duta keselamatan khususnya SAR di laut. Saya janji saya support, ini baru pertama kali ada monumen keselamatan penerbangan padahal sudah ada banyak kecelakaan pesawat," sambungnya.

Kabasarnas juga berterima kasih kepada tokoh adat dan masyarakat Kotawaringin Barat. Perpaduan budaya dan kemampuan tim SAR disebutnya cukup menjadi peran penting.

"Saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan support, meski mereka tidak ada kemampuan khusus, mereka tetap membantu. Gotong royong harus kita pelihara di mana tidak semua negara punya budaya itu. Budaya dan adat setempat punya peran sendiri. Dan bisa kota kembangankan antara budaya, adat dan teori," tutup Marsekal Bintang 3 itu.

(ear/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads