Kisah Serupa soal Narkoba: Ada Freddy di Nusakambangan, Ada Sultan di Kutai

Kisah Serupa soal Narkoba: Ada Freddy di Nusakambangan, Ada Sultan di Kutai

- detikNews
Rabu, 15 Apr 2015 09:37 WIB
Kisah Serupa soal Narkoba: Ada Freddy di Nusakambangan, Ada Sultan di Kutai
Jaringan narkoba Sultan (Foto: Suriyatman/detikcom)
Samarinda - Selain Freddy Budiman, ada juga bisnis narkoba dari balik penjara di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Bosnya bernama Sultan. Bagaimana kelompok ini bisa beraksi secara leluasa?

Jaringan Freddy terungkap dari pengintaian penyidik Ditipid Narkoba Bareskrim Polri sejak tanggal 7 April 2015. Dari hasil pengembangan, 50 ribu pil ekstasi dari Belanda, 800 gram sabu dari Pakistan, dan 122 lembar narkotika jenis baru CC4 dari Belgia disita polisi dari jaringan Freddy.

Freddy memiliki anak buah di LP Cipinang, beberapa daerah, dan bahkan Belanda. Terpidana mati ini menggunakan telepon LP Batu Nusakambangan sebagai alat komunikasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Tenggarong, Sultan melakukan hal serupa. Terpidana kasus narkoba ini dijemput Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim, Senin (13/4). Kasus ini terungkap saat BNNP Kaltim menangkap 2 orang di Jalan Sambutan Samarinda. Barang buktinya berupa 5 gram sabu dan uang tunai Rp 14 juta. Di situlah terungkap bahwa 2 orang tersebut terhubung dengan Sultan.

Sultan menempati Blok B 2 Lapas Tenggarong. Di sel, ada 1 gram sabu, uang tunai Rp 65 juta, 6 bong, timbangan, plastik klip, HP, dan buku catatan transaksi dari dalam lapas. Bagaimana ia bisa memiliki barang-barang tersebut?

"Barang masuk dan keluar melalui pakaiaan kotor yang dibawa oleh kaki tangannya yang membesuk. Kebetulan Sultan mencuci pakaian kotor di luar lapas," kata Kepala BNNP Kaltim Brigjen Agus Gatot Purwanto kepada wartawan, Selasa (14/4/2015) sore.

Sultan mengaku beraksi sejak 3 bulan lalu. Ia dan 5 kaki tangannya terancam hukuman 6 sampai 20 tahun penjara atau penjara seumur hidup atau pidana mati.

Baik LP Nusakambangan maupun Tenggarong masih menyelidiki bagaimana terpidana bisa berbisnis narkoba selama di penjara. Apakah karena terpidana sedemikian pintar mengecoh petugas LP? Atau karena pengawasan petugas lemah? Atau karena ada petugas LP yang ikut terlibat?


(try/asp)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini