Cara Freddy Budiman Rekrut Anggota Jaringan Narkoba dari Nusakambangan

Cara Freddy Budiman Rekrut Anggota Jaringan Narkoba dari Nusakambangan

- detikNews
Selasa, 14 Apr 2015 19:40 WIB
Cara Freddy Budiman Rekrut Anggota Jaringan Narkoba dari Nusakambangan
Jakarta - Gembong narkoba Freddy Budiman masih saja bisa mengelola jaringan narkobanya walau sudah mendekam di LP Nusakambangan, Jateng. Hak berkomunikasi yang dicabut negara dari Freddy tak bisa memutuskan tali koordinasi kartel terpidana mati ini.

"Kalau di Lapas itu ada wartel khusus pemasyarakatan. Itu yang saya pakai komunikasi sebelumnya," kata Freddy di Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (14/4/2015).

โ€ŽMelalui Wartel itu, Freddy mengaku mengontak rekannya di Belanda, Laosan alias Boncel, yang merupakan warga negara Belanda. Ia meminta Laosan untuk mengimpor 50 ribu butir ekstaksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya komunikasi seperlunya sama pekerja saya dan sama yang di Belanda. Itu kita bisa telepon ke mana saja. Model bilik begitu dan petugas Lapas nggak dengar," ujar Freddy.

Pegawai yang dimaksud adalah saudara kandung Freddy, yakni Yanto, Aries dan Latif. Melalui 3 saudaranya itu, direkrutlah pihak lain seperti Gimo, Asun, Henny, Riski, Hadi, Kimung, Andre dan Asiong. Namun Freddy hanya berkomunikasi dengan Yanto, Aries dan Latif.

"โ€ŽKe pegawai saya yang paling sering. Belanda juga sering. Kebetulan waktu saya diisolasi 1,5 tahun, baru berjalan lagi beberapa bulan ini karena ada penawaran dari mereka (Belanda) narkoba baru dengan jalur baru dari Jerman," ujar Freddy.

"โ€ŽUntuk ekstaksi kalau nilai uangnya saya nggak begitu anu, tapi penawarannya ke saya. Setahu saya, selama saya diisolasi itu mereka tidak bekerja," tambah Freddy.

Dijelaskan Freddy, ia pun mendapatkan ponsel di dalam lapas dari napi yang hendak bebas. Jual beli ponsel itu disebut Freddy tak diketahui petugas lapas, namun melalui ponsel yang ia beli dari napi yang hendak bebas itu memulai koordinasinya dengan kaki tangannya.

"Saya beli ponsel dari napi yang mau bebas. Itu saya beli dan saya gunakan ketika mau transaksi," ucap Freddy.

Dari Wartel dan ponsel tersebut, Freddy memberikan arahan dan koordinasi kepada Yanto, Aries dan Latif yang merekrut kaki tangan. Tekanan kartel internasional kepada Freddy pun disebutnya terjadi karena pangsa pasar narkoba di Indonesia masih tinggi.

"Indonesia pangsa pasarnya masih tinggi di seluruh kota," ucap Freddy.

Untuk merekrut kaki tangan, saudara Freddy mengelabui calon pegawai dengan kedok garmen. Menurut Freddy, hal itu dilakukan karena tak mudah mencari kurir narkoba profesional.

"Situ saya tawarin jadi kurir saya tidak mungkin mau. Nah itu kita bohongi mereka, dengan ucapan 'sayang' mungkin bisa 'klepek-klepek' dia," kata Freddy.

(vid/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads