"Indonesia dan Norwegia memiliki karakter yang sangat berbeda jika dilihat dari letak geografis, ukuran penduduk dan bidang kapasitas ekonomi. Walaupun demikian, kedua negara juga memiliki banyak kesamaan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai universal, antara lain demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kombinasi ini yang menjadikan hubungan kedua negara sangat erat, bersahabat, dan saling mendatangkan manfaat," ujar Jokowi dalam pernyataan bersama dengan PM Norwegia di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (15/4/2015).
Jokowi mengatakan bagi Indonesia, Norwegia adalah mitra penting di bidang lingkungan hidup, kerja sama hak asasi manusia, energi, perikanan, dan maritim. Dalam pertemuan bilateral tadi, bersama dengan PM Solberg, Presiden Jokowi telah membahas upaya penguatan kerja sama bilateral di berbagai bidang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bidang energi terbarukan, kerja sama dilakukan antara lain di bidang hydropower dan domestic biogas. Kerja sama ini telah dilakukan sejak tahun 1995, dan akan terus dilanjutkan oleh kedua negara. Di bidang kerja sama triangular, Indonesia-Norwegia telah melakukan kerja sama untuk melatih 25 polisi wanita dan 12 guru dari Afghanistan, di Jakarta dan Bandung.
"Melihat positifnya hasil kerja sama ini, kami sepakat untuk menjajaki perluasan kerja sama triangular antara Indonesia-Norwegia ke negara-negara berkembang lainnya," jelasnya.
Di bidang pendidikan, untuk mendorong implementasi joint-degree antar-universitas kedua negara, beberapa universitas di Indonesia, seperti UGM, ITB, dan Akademi Keperawatan Ibnu Sina telah menjalin kerja sama dengan universitas-universitas di Norwegia. Tercatat antara 60-80 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Norwegia, dan sebagian besar mahasiswa pasca sarjana.
"Di samping masalah bilateral, saya dan PM Solberg juga bertukar pendapat mengenai beberapa isu regional dan global, antara lain ASEAN, perubahan iklim, situasi Timur Tengah dan lain-lain," tutur Jokowi.
Kedua Negara juga telah sepakat untuk melakukan saling dukung bagi pencalonan sebagai Anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, untuk Indonesia tahun 2019-2020 dan untuk Norwegia tahun 2021-2022.
"Dapat saya sampaikan bahwa Indonesia dan Norwegia telah memiliki 'Kemitraan Dinamis' yang dideklarasikan dan ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri dari kedua negara pada tahun 2010," kata Jokowi.
Kedua Negara juga telah memiliki forum reguler Dialog Hak Asasi Manusia sejak tahun 2002.
"Sebagai penutup pernyataan saya, saya ingin menyampaikan penghargaan saya kepada PM Solberg atas kunjungannya. Saya yakin bahwa hubungan bilateral Indonesia dan Norwegia akan semakin kuat dan bermanfaat bagi rakyat kedua negara," tutup Jokowi.
(mpr/fdn)











































