"Logo itu memang kita pro bonokan (serahkan untuk kepentingan umum-red) agar bisa mendorong Bandung menjadi kontributor yang besar dalam perhelatan ini (KAA-red)," terang Firman saat berbincang dengan wartawan di Jalan Citarum, Selasa (14/3/2015).
Keduanya enggan menyebut nominal harga saat ditanya berapa biasanya jika mereka diminta untuk membuat logo. Menurut keduanya, hal terpenting adalah kontribusi Bandung bagi penyelenggaraan KAA.
"Nilai itu relatif, lagi pula kami bukan spesialis pembuat logo. Kami hanya ingin menekankan bahwa kontribusi publiklah yang besar dalam KAA ini," terang Firman yang juga diamini Yahya.
Setelah logo tersebut dipilih oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan disetujui oleh Panitia Pusat KAA, keduanya langsung menyerahkan hak guna logo tersebut kepada negara.
"Jadi saya membuat surat pengalihan hak penggunaan logo kepada negara melalui Kominfo," ucapnya.
Firman melihat momentum KAA ke-60 ini menjadi satu kesempatan bagi Kota Bandung untuk menunjukkan semangat kolaborasi dan gotong-royongnya.
"Bandung kan lagi greget-gregetnya ingin menunjukkan banyak hal. Ini buat saya pribadi kebetulan dan Kang Emil (Wali Kota Bandung-red) mendukung. Fight-nya harus kedengeran," ungkapnya.
Firman juga berpendapat bahwa KAA ke-60 tahun ini lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Kata saya rame sekarang, mah. Karena dimeriahkan juga oleh publik. Keterlibatan publiknya lebih kuat," tandasnya.
(avi/ern)











































