Bukan Seks Sadis, Polisi Menduga Pembunuhan Berencana di Kasus Deudeuh

Pembunuhan Wanita di Tebet

Bukan Seks Sadis, Polisi Menduga Pembunuhan Berencana di Kasus Deudeuh

Rini Friastuti - detikNews
Selasa, 14 Apr 2015 14:54 WIB
Bukan Seks Sadis, Polisi Menduga Pembunuhan Berencana di Kasus Deudeuh
Jakarta - Polisi masih terus mencari calon tersangka pembunuh Dedeuh Alfisahrin (26) alias Tata alias Mpie. Setelah sebelumnya menyatakan dugaannya bahwa pembunuhan dilakukan satu orang, polisi kembali mengungkapkan adanya indikasi bahwa kasus ini merupakan pembunuhan berencana.

"Ada indikasi kalau ini pembunuhan berencana. Namun masih kami dalami terlebih dahulu,"โ€Ž ujar Kasat Reskrim Mapolres Jaksel, AKBP Audie Latuheru dalam keterangannya, Selasa (14/4/2015).

Barang bukti yang ditemukan polisi di lokasi kejadian pun telah diamankan untuk diselidiki. Termasuk mengetahui pemilik alat kontrasepsi yang meninggalkan cairan sperma.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua barang-barang masih diselidiki kepemilikannya, seperti alat kontrasepsi dan cairan (sperma) itu," jelasnya.

Belum diketahui pasti siapa dalang dan motif di balikโ€Ž pembunuhan janda beranak satu ini. Hingga saat ini sudah 8 saksi yang telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

Polisi sudah melansir data, jenazah Deudeuh diduga tewas 10-12 jam sebelum ditemukan, pada Sabtu (11/4) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Dia tak mengenakan busana, ditutupi bedcover, disumpal kaos kaki dan lehernya terlilit kabel hairdryer.

Tak ada luka lain di tubuh Deudeuh selain lilitan benda tumpul di leher. Hasil pemeriksaan, janda satu anak itu tewas karena kehabisan oksigen. Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengajukan sejumlah pertanyaan terkait kasus tersebut. Terutama bila berkaca dari temuan jenazah yang ada sekarang.

"Kalau motif dendam, mengapa tak ada cedera parah pada tubuh korban? Jika sejak awal berencana menghabisi korban, mengapa tidak ada rencana menyembunyikan tubuh? Jika pembunuhan karena terpicu secara tiba-tiba, mengapa sempat mengikat korban? Mengapa tanpa busana?" demikian sejumlah pertanyaan dari Reza, Selasa (14/4/2015).

"Mungkinkah praktek sadism (kesenangan seks lewat penyiksaan) yang berakhir fatal? Apalagi mulut korban disumpal. 'Breath play' adalah penyebab utama kematian mereka yang melakukan bondage-sadism-discipline-masochism," duga Reza.

(rni/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads