Sejumlah pembaca mencatat persoalan sekaligus memberikan solusi yang bisa dibenahi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tentu semata-mata agar TransJ menjadi transportasi publik yang aman, nyaman, dan jadi pilihan utama warga Jakarta.
Salah satu yang memberikan saran adalah Ach Muhardi atau Ardi. Melalui pesan elektronik kepada detikcom, Selasa (14/4/2015), Ardi mengungkap sederet persoalan yang muncul dan memberikan alternatif solusinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masih ingat bagaimana PT KAI membenahi pedagang kaki lima di lingkungan stasiun, demo dan tuntutan yang tidak masuk akal harus dihadapi. Yang saya kwatirkan bila pedagang kaki lima tidak ditertibkan dari sekarang, maka apa yang terjadi pada PT KAI akan terulang lagi," kata Ardi.
Kedua, Ardi berharap seluruh jalur Transjakarta dibuat khusus dan disterilkan dari kendaraan lain. Saat ini masih ada sebagian jalur Transjakarta yang menyatu dengan jalur kendaraan lain.
"Terutama di jalan-jalan yang rawan kemacetan. Hal ini menyebabkan keterlambatan tibanya bus di halte, sehingga terrjadi penumpukan penumpang. Bila memungkinkan seluruh jalur Transjakarta dibuat jalur khusus dan diseterilkan (layaknya rel kereta api), dengan ini memudahkan untuk membuat jadwal keberangkatan dan kedatangan bus di tiap halte dan menghitung jumlah armada yang dibutuhkan untuk masing-masing koridor," usulnya.
Yang ketiga, Ardi mengusulkan ada layar informasi di setiap halte. Sehingga calon penumpang bisa memperhitungkan waktu tunggu bis datang yang terkadang bisa sampai 30 menit bahkan lebih terutama di waktu-waktu sibuk (pagi dan sore hari).
"Hal ini menyebabkan penumpukan penumpang di halte. Ketika bus tiba seluruh penumpang berebutan untuk bisa masuk ke dalam, terkadang tidak berapa lama 1 atau 2 bus lain dengan tujuan yang sama datang kembali. Ironisnya kondektur bus yang pertama tidak memberitahu bahwa di belakang sebentar lagi ada bus lain yang akan masuk ke halte tersebut," katanya.
Karena tidak adanya informasi, maka yang terjadi bus pertama penuh sesak dengan penumpang sedangkan bus dibelakangnya aga kosong. Selain kenyamanan penumpang dikorbankan, bus pun akan cepat rusak karena overload.
"Untuk itu saya usulkan perlu adanya monitor/informasi keberadaan/banyaknya bus minimal di 4 halte sebelumnya. Atau bisa juga informasi dari petugas halte melalui pengeras suara.
Hal ini membatu bagi penumpang untuk memutuskan untuk menunggu Transjakarta atau menggunakan alternatif transportasi yang lain," papar Ardi.
Terakhir dia berharap jajaran Direksi dan Manajer TransJ melihat kondisi langsung di lapangan terutama pada saat jam-jam padat, pagi dan sore hari. Hal ini sangat membantu pula untuk mendapatkan solusi terbaik terkait dengan pelayanan ke masyarakat, minimal memberikan motivasi untuk memperbaiki kondisi Transjakarta yang amburadul ini.
"Seharusnya perbaikan pelayanan Transjakarta lebih didahulukan ketimbang perbaikan sistem pembayaran, sekarang seluruh koridor sudah menggunakan mesin," pungkasnya seraya berharap masukannya didengarkan pengelola TransJ dan pihak terkait lainnya.
Apakah solusi yang ditawarkan sudah cukup atau Anda punya solusi lain terkait masalah ini? Silakan berbagi ide ke masalahsolusi@detik.com dengan subject masalah dan solusi. Jangan lupa sertakan kontak Anda.
Masalah solusi adalah program baru detikcom yang bertujuan untuk membantu mencarikan solusi terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. detikcom akan mengumpulkan laporan masalah dari publik, kemudian menganalisis solusinya dengan pakar, hingga akhirnya mencoba merealisasikan solusi itu dengan pihak terkait.
(van/try)











































