Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mencontohkan adanya beberapa sekolah unggulan di Jakarta yang pelaksanaan ujian nasionalnya masih menggunakan sistem manual.
Ini terjadi karena rasio 3:1 untuk siswa dan komputer tak sesuai. "Ternyata sekolah unggulan ini komputernya tidak proposional. Misalnya, saya menemukan sekolah unggulan yang kepala sekolahnya cerita, jumlah siswanya 300 komputernya hanya 60. Sementara kita mensyaratkan komputernya minimal sepertiga, kok bisa hanya 60? Ternyata karena siswa-siswanya sudah punya laptop, karena itu sekolah tidak menyiapkan komputer banyak," kata Anies kepada wartawan di Kantor Kemdikbud, Senayan, Jakpus, Selasa (14/4/2015).
Dalam sidaknya ke sekolah-sekolah saat menjelang UN, Anies menemukan fakta bahwa banyak sekolah di kota besar yang belum siap secara infrastruktur dalam pelaksanaan ujian berbasis komputer. Karena itu Kemendikbud akan melakukan sejumlah perbaikan.
"Sekolah-sekolah ini ada rasio antara siswa dan komputer, karena itu rasionya harus ditambah. Malah yang menarik, sekolah-sekolah di kota malah tidak memiliki cukup komputer,ketika kita cek lebih jauh untuk melakukan UN berbasis komputer, komputernya harus komputer sekolah, kalau tadi banyak anak anak yang memakai komputer sendiri," jelasnya.
"Jadi ke depan kita akan melakukan asessment, dilihat jumlah komputernya, kualitas infrastruktur dan operator, dari sana akan kita tambah jumlah siswa yang akan melakukan UN berbasis komputer," sambungnya.
Namun Anies yakin UN berbasis komputer ini akan terus berjalan. Karena generasi muda Indonesia sudah melek teknologi, sehingga pelaksanaan UN tak akan dipersulit dengan menggunakan sistem manual yang rawan kecurangan.
"Anak anak yang kita lihat ini generasinya generasi baru, sudah terbiasa dengan komputer, jadi mereka sudah nyaman, tidak perlu khawatir memberikan lingkaran hitam memakai pensil yang berisiko sobek, jadi jauh lebih aman," tutup dia.
(rni/fdn)











































