Menjadi satu dari sepuluh gadis pendamping bagi delegasi Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 merupakan pengalaman berharga bagi Otje Djundjunan alias Ceu Popong. Saat usianya masih 17 tahun perempuan yang kini menjadi politikus Partai Golongan Karya itu berkesempatan bertemu dengan sejumlah pemimpin negara.
Ceu Popong yang masih remaja bisa bertatap langsung dengan pemimpin dunia peserta KAA, seperti; Mr. Ali Sastroamijoyo (Indonesia), Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Perdana Menteri Shri Pandit Jawaharlal Nehru (India), Perdana Menteri Muhammad Ali Bogra (Pakistan), Perdana Menteri Sir John Kotelawa (Srilanka), Perdana Menteri U Nu (Burma sekarang Myanmar) dan utusan 24 negara di Asia dan Afrika.
Kesepuluh gadis itu bertugas saat acara makan malam penutupan Konferensi Asia Afrika di Hotel Savoy Homann, Bandung. Tugas mereka menjelaskan kepada delegasi KAA mengenai makanan tradisional dari Jawa Barat yang saat itu disuguhkan, seperti: minuman bandrek, bajigur, colenak, surabi, dan dadar gulung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya saat menjelaskan aneka makanan tradisional Bandung kepada Nasser, Ceu Popong harus mendongak untuk melihat wajah sang Presiden. Lama dalam posisi mendongak leher Ceu Popong pun pegal dan spontan dia nyeletuk. "Aduh Meni cangkeul (aduh pegal banget)," cerita Ceu Popong saat berbincang dengan detikcom, Jumat (10/4/2015).
Kalimat tersebut mengundang tanya dari Nasser. "What do you mean?," tanya Nasser seperti ditirukan Ceu Popong.
Mendapat pertanyaan itu, Ceu Popong tak mungkin berkata jujur untuk mengaku pegal. “That is Sundanese language and the meaning is I am so proud of you," kata Ceu Popong.
Jawaban Ceu Popong itu pun membuat senang Nasser. Presiden Negeri Piramid itupun tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Popong. “Hapunten Pak Nasser,” kata Popong dalam hati.
(erd/try)











































