Kisah 10 Gadis Cantik di Acara Makan Malam Tamu KAA

60 Tahun KAA

Kisah 10 Gadis Cantik di Acara Makan Malam Tamu KAA

Erwin Dariyanto - detikNews
Selasa, 14 Apr 2015 10:58 WIB
Kisah 10 Gadis Cantik di Acara Makan Malam Tamu KAA
Ceu Popong (Foto-detikcom)
Jakarta -

Usia Bangsa Indonesia masih satu dasa warsa ketika Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung, Jawa Barat. Namun para pendiri Republik ini bertekad menjadi tuan rumah yang baik bagi delegasi yang hadir dalam KAA dari 18 sampai 24 April 1955.

Selain menyuguhkan aubade di Lapangan Tegallega, panitia juga menyiapkan 10 gadis untuk mendampingi delegeasi KAA saat acara penutupan KAA di Hotel Savoy Homann. Kesepuluh gadis itu tak asal dipilih, melainkan ada syarat-syarat tertentu. (baca juga: Sepuluh Ribu Pelajar Bandung Hibur Tamu KAA 1955).

"Panitia mencari anak-anak gadis yang bahasa Inggrisnya baik, dan suka pakai kebaya," cerita Otje Djundjunan alias Ceu Popong saat berbincang dengan detikcom, Jumat (10/4/2015). Panitia menurut Ceu Popong tak akan memilih gadis yang pintar berbahasa Inggris namun tak suka pakai kebaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ceu Popong yang kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat menjadi satu dari sepuluh gadis yang terpilih ketika itu. "Jadi saya termasuk yang terpilih dari 10 orang itu karena bahasa Inggris saya bagus," kata dia.

Setelah terpilih, kesepuluh gadis itu akan bertugas saat acara makan malam penutupan Konferensi Asia Afrika di Hotel Savoy Homan. Tugas mereka menjelaskan kepada delegasi KAA mengenai makanan tradisional dari Jawa Barat yang saat itu disuguhkan, seperti: minuman bandrek, bajigur, colenak, surabi, dan dadar gulung. (baca juga: Colenak Murdi, Panganan Saat KAA 1955 yang Hingga Kini Masih Eksis).

"Yang keliling membawa makanan itu pelayan Hotel Homan, kami nawarin ke siapa saja sambil menjelaskan tentang minuman tradisional itu," kata Ceu Popong yang lahir pada Jumat, 30 Desember 1938 lalu itu.

Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 dihadiri oleh delegasi 5 negara pelopor yakni; Mr. Ali Sastroamijoyo (Indonesia), Perdana Menteri Shri Pandit Jawaharlal Nehru (India), Perdana Menteri Muhammad Ali Bogra (Pakistan), Perdana Menteri Sir John Kotelawa (Srilanka), Perdana Menteri U Nu (Burma sekarang Myanmar) dan utusan 24 negara di Asia dan Afrika.

(erd/tor)


Berita Terkait