Solusi dari Penumpang: Sopir Tanggung Jawab Atas Bus TransJ dan Gandeng Swasta

Masalah dan Solusi

Solusi dari Penumpang: Sopir Tanggung Jawab Atas Bus TransJ dan Gandeng Swasta

- detikNews
Selasa, 14 Apr 2015 09:48 WIB
Solusi dari Penumpang: Sopir Tanggung Jawab Atas Bus TransJ dan Gandeng Swasta
Jakarta - Pihak pengelola TransJakarta berencana untuk menambah jumlah bus untuk mengganti bus-bus tua dan rusak yang masih beroperasi di jalanan Ibu Kota. Ide tersebut disambut baik oleh para pengguna TransJ dan mereka juga mengusulkan agar bus baru dan bus yang sudah ada dijamin perawatannya.

Seperti yang diusulkan oleh Reni Anisanti, pengguna setia TransJ ini menyarakan agar setiap bus menjadi tanggung jawab sopir. Hal ini dilakukan agar perawatan bus bisa terjamin.

"Jadi ditunjuk satu bus itu dipegang oleh 2 atau 3 sopir yang bertanggungbjawab penuh dengan bus untuk maintanance-nya, karena sebenarnya mereka kan hanya menjaga dan memastikan kondisi busnya, soalnya sehari-hari mereka yang menggunakan," ucap Reni dalam surat elektronik yang diterima detikcom, Selasa (14/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misalnya jika ada kendala seperti kerusakan mesin atau interior bus, para sopir bisa melakukan servis atau meminta agar segera diperbaiki ke bengkel. Dengan catatan biaya bukan sopir yang menanggung.

"Tapi untuk kerusakan karena kelalaian mereka, tentu mereka harus tanggungjawab," ujar Reni.

Selain Reni, usulan lain datang dari Dimas Rangga yang juga pengguna TransJ. Dimas mengusulkan agar perusahaan transportasi swasta diperbanyak dan dipermudah dalam menggunakan jalur TransJ dengan kerjasama bus terintegrasi seperti Kopaja atau APTB. Namun dengan catatan bahwa perusahaan bus kota integrasi busway tidak memasang harga yang menyiksa penumpang.

"Hal ini bukan tanpa alasan, di lapangan terlihat dengan jelas bahwa penumpang lebih memilih naik APTB. Penumpang tidak keberatan membayar Rp 5.000 tambahan selain Rp. 3.500 yang dibayar saat masuk halte. Walaupun kalau kita bicara pelayanan yang tepat, tentu penumpang dirugikan jika harus membayar Rp 5.000 lagi untuk antar halte TransJ," ucapnya.

Menurutnya fenomena ini terjadi karena gagalnya TransJ memberikan pelayanan sehingga penumpang terpaksa naik APTB, Kopaja, dan lain-lain dan membayar ongkos tambahan.

Apakah solusi yang ditawarkan sudah cukup atau Anda punya solusi lain terkait masalah ini? Silakan berbagi ide ke masalahsolusi@detik.com dengan subject masalah dan solusi. Jangan lupa sertakan kontak Anda.

Masalah solusi adalah program baru detikcom yang bertujuan untuk membantu mencarikan solusi terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. detikcom akan mengumpulkan laporan masalah dari publik, kemudian menganalisis solusinya dengan pakar, hingga akhirnya mencoba merealisasikan solusi itu dengan pihak terkait.

(slm/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads