"Nggak bisa. Kalau gitu nanti semua ikut-ikutan," jawab Ahok saat dikonfirmasi wartawan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Senin (13/4/2015).
Bukan tanpa alasan Ahok memilih untuk tidak membantunya. Penyebabnya, Richie dinilai kurang teliti dalam memilih kelas ruang perawatannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rumah sakit itu nggak ada alasan. Itu dia masuk kelas I lagi. Jangan masuk kelas I dong. Kan saya bilang cara bedakan orang mampu tidak mampu adalah dia mau nggak masuk kelas III," sambungnya.
"Kalau tidak mau masuk kelas III berarti dia sengaja. Sederhana. Makanya saya tidak bisa bedakan. Kalau kamu masuk kelas III, berarti kamu nggak mampu," tegas Ahok.
Ahok memang berkali-kali menekankan perihal pembedaan status mampu atau tidak mampu seseorang. Terbaru dalam beberapa kesempatan menghadiri beberapa Musrenbang Kota Administrasi Jakarta 2016, dia sejak dulu tidak pernah melihat status ekonomi seseorang dari golongan yang tertera dalam kartu BPJS melainkan kelas perawatan yang dipilihnya ketika berobat.
Richie sendiri mengaku awalnya dia dan sang istri, Fenomena (33), memilih kelas I. Namun setelah melahirkan buah hati kedua mereka, Richie memindahkan Fenomena ke ruang perawatan kelas III. Namun, tagihan kamar kelas I tetap berjalan walau mereka tak lagi menempatinya.
"Kasus yang melahirkan juga begitu, beda ya kalau kasusnya kecelakaan. Di situ ada berapa rumah sakit kenapa dia pilih yang nggak terima BPJS. Sudah ke sana (minta) kelas I lagi, sudah gitu nggak bisa keluar, teriak-teriak. Ya nggak bisa kalau gitu nanti semua ikut-ikutan," pungkasnya.
Sebelumnya, Richie mendatangi wartawan di Balai Kota menceritakan keluh kesahnya. Sambil membawa satu map berisi berkas-berkas, dia berniat memberinya ke Ahok dengan tujuan memperoleh bantuan.
Richie sendiri bekerja sebagai salah satu pekerja outsourcing kreditor untuk sebuah bank.
(aws/jor)











































