Koki Swie Teng Beberkan Perintah Misterius Soal Plastik Berisi Putusan Yohan

- detikNews
Senin, 13 Apr 2015 18:04 WIB
Jakarta - Titiek Teguh Hati, juru masak/koki bos Sentul City Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng membeberkan penyitaan plastik hitam oleh petugas KPK. Jaksa KPK meyakini plastik tersebut berisi putusan perkara Yohan Yap penyuap Bupati Bogor saat itu Rachmat Yasin yang didapat dari panitera PN Tipikor Bandung.

Plastik hitam disita petugas KPK dari kediaman Swie Teng di Jl Widya Chandra, Jaksel, setelah Swie Teng lebih dulu ditangkap petugas KPK pada 30 September 2014. Pada malam itu sekitar pukul 09.00 WIB, Titiek mengaku diperintahkan istri Swie Teng untuk membawa koper berisi pakaian untuk bosnya yang sudah berada di KPK.

"Di saat saya membawa koper tersebut ada telepon masuk dari seorang pria yang mengatakan di depan dapur di dekat pot ada plastik," kata Titiek bersaksi untuk Swie Teng di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/4/2015).

Tanpa berpikir panjang, Titiek langsung membawa plastik tersebut bersama dengan koper yang sudah dipersiapkan. Rencananya koper dan plastik ini akan dibawa ke rumah adik Swie Teng, Kwee Riyandi Kumala alias Allen.

"Ternyata di jalan ketika mau menuju ke rumah beliau (Allen), ada petugas KPK nanya ke saya apa isinya? Katanya begitu. Saya bilang koper Pak Swie Teng," sambungnya.

Apa isi plastik tersebut, Titiek mengaku tidak mengetahui. Namun dia melihat ada kertas-kertas dalam plastik yang dibuka petugas KPK. "Cuma melihat saja, tidak sempat baca apa dibuka, hanya lihat dibuka... Lembaran-lembaran kertas Pak, bukan buku," tutur Titiek menyebut plastik tersebut langsung dibawa petugas KPK.

Panitera Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Susilo Nandang Bagio memang mengakui adanya permintaan berkas putusan dari pihak yang mengaku pengacara Yohan Yap.

Permintaan ini dilakukan pada hari yang sama setelah Majelis Hakim membacakan putusan (vonis) Yohan Yap di Pengadilan Tipikor Bandung pada 24 September 2014. Susilo menyebut saat itu ada 3 orang yang dia tidak kenal menemui dirinya untuk meminta salinan putusan.

"Dia mengaku sebagai penasihat hukum Yohan Yap untuk melakukan upaya pikir-pikir harus membaca pertimbangan (putusan) itu," sambungnya.

Susilo sebenarnya menolak menyerahkan berkas putusan karena biasanya baru diberikan setelah 7 hari putusan dibacakan Majelis Hakim. Namun karena mendapat paksaan, Susilo memerintahkan stafnya untuk memfoto kopi putusan pada tanggal 24 September 2014.

Berkas putusan yang diberikan menurut Susilo tidak disertai tandatangan Majelis Hakin dan cap stempel. Sementara itu pengacara Yohan Yap, Arman Hanis membantah pernah meminta atau menyuruh orang lain mengambil berkas putusan kepada Susilo.

"Tidak ada meminta putusan. Dari rekan saya maupun tim kami tidak ada yang minta putusan pada saat putusan (dibacakan)," ujar Arman dalam persidangan yang sama.

Pengambilan berkas putusan sebut Arman baru diambil tanggal 29 September 2014 melalui anggota tim pengacara Yohan lainnya, Irwan Irawan. "(Putusan diambil) setelah Jaksa mengajukan banding," kata dia.

Dalam dakwaan Jaksa KPK dipaparkan, setelah Swie Teng ditangkap KPK pada 30 September 2014 di Taman Budaya Sentul City Kabupaten Bogor, petugas KPK menemukan fotocopy putusan PN Tipikor Bandung dalam perkara Yohan Yap tanpa tanda tangan Majelis Hakim dan stempel pengadilan.

Swie Teng didakwa menyuap Rachmat Yasin dan menghalangi penyidikan dalam perkara rekomendasi tukar menukar kawasan hutan atas nama PT BJA.

(fdn/mpr)