Seperti yang dialami oleh Dedi Efendi warga Bogor yang bekerja di kawasan Gatot Subroto ini. Sehari-hari Dedi menggunakan kereta dari Bogor ke Stasiun Cawang lalu lajut menumpang bus TransJ untuk sampai ke tempat kerjanya.
Pengalaman menggunakan bus TransJ yang paling diingat olehnya adalah pada Jumat (10/4/2015). Saat itu Dedi naik TransJ single ke arah Grogol. Penumpang dalam bus penuh dan suasanya pengap.
"Di dalam TransJ saat itu ada bayi yang nangis kepanasan, ditambah ada penumpang yang ikut marah karena tidak tega lihat si bayi menangis," kata Dedi dalam surat elektronik yang diterima detikcom, Senin (13/4/2015).
Saat bus sudah mendekati Halte Pancoran, bayi yang kepanasan itu masih tetap menangis. Dedi yang saat itu sudah banjir keringat akhirnya memutuskan untuk turun di Pancoran.
"Dengan berat hati setelah sampai Halte Pancoran saya pilih turun dan cari transportasi lain yang lebih baik," ujarnya.
"Naik TransJ sekarang tak ubahnya seperti masuk ruang sauna, panas, pengap," tambahnya.
Selain masalah AC dan penuhnya penumpang, Dedi juga mengatakan pegangan bus yang ditumpanginya itu rusak dan penumpang tak dizinkan berpenganan di sana.
"Parahnya lagi tidak ada tempat pegangan karena tempat pegangannya nggak boleh dipegang sama penjaga pintunya, dia beralasan pegangan tersebut udah nggak layak," katanya.
Anda punya pengalaman lain menggunakan bus TransJ? Silakan berbagi pengalaman ke masalahsolusi@detik.com dengan subject masalah dan solusi. Jangan lupa sertakan kontak Anda dan foto TransJ yang ditumpangi.
Masalah solusi adalah program baru detikcom yang bertujuan untuk membantu mencarikan solusi terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. detikcom akan mengumpulkan laporan masalah dari publik, kemudian menganalisis solusinya dengan pakar, hingga akhirnya mencoba merealisasikan solusi itu dengan pihak terkait.
(slm/mad)











































