Bandung Kian 'Cantik' Menjelang Pemimpin Dunia Datang

60 Tahun KAA

Bandung Kian 'Cantik' Menjelang Pemimpin Dunia Datang

- detikNews
Senin, 13 Apr 2015 13:01 WIB
Bandung Kian Cantik Menjelang Pemimpin Dunia Datang
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (berpeci) saat kerja bakti mengecet trotoar. (Foto: Erna Mardiana/detikcom)
Jakarta - Sepekan menjelang digelarnya Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika, Bandung giat bersolek. Tukang-tukang dikerahkan siang dan malam untuk 'memoles' sejumlah pekerjaan seperti; memasang lampu hias, mengecet trotoar, menghias taman, dan memasang bangku taman.

Untuk sesaat pengunjung di Jalan Asia Afrika mungkin akan terganggu oleh desing bunyi mesin pemotong keramik atau debu akibat pekerjaan trotoar. Meski belum sepenuhnya tuntas, namun seputar Gedung Merdeka, tempat digelarnya KAA 60 tahun yang lalu kini mulai tampak cantik.

Banyak pengunjung yang mengambil gambar dengan latar belakang gedung-gedung dan taman di Jalan Asia Afrika. Hampir semua titik di jalan sepanjang 1,51 kilometer itu menjadi tempat menarik untuk berfoto. Bandung pun kian cantik menjelang pemimpin dunia datang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bandung bersiap menyambut 25 pemimpin dunia yang akan hadir memperingati 60 tahun KAA pada 24 April 2015 nanti. Pada Minggu 12 April 2015 kemarin Wali Kota Bandung Ridwan Kamil turun langsung memimpin kerja bakti, mengecat trotoar di sepanjang Jalan Asia Afrika, Jalan Braga dan seputar alun-alun Bandung.

Ridwan Kamil tak sendirian, Panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi Mayor Jenderal TNI Dedi Kusnadi Thamim juga ikut kerja bakti bersama ribuan personelnya.

“Persiapan sudah 90 persen, hanya tinggal detik-detik terakhir, pengecatan dan kebersihan saja. Kalau serahin ke kontraktor tidak akan selesai," kata Emil ditemui di sela-sela peninjauan.

Ditargetkan semua persiapan KAA di Bandung selesai pada Sabtu pekan depan saat dilakukan gladi bersih oleh Presiden Joko Widodo.

Begitulah persiapan Bandung menyambut peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Kota Kembang ingin tampil maksimal menyambut 25 Kepala Negara yang bakal singgah pada Senin 24 April.

Persis 60 tahun yang lalu dari tanggal 18-24 April tahun 1955, 29 kepala negara berkumpul di Bandung. Mereka yang awalnya berbeda sikap dan cenderung terlibat ketegangan menyatukan tekad; melawan segala bentuk penjajahan di dunia.

Dari kota seluas 167,67 kilometer persegi itu lahirlah Dasasila Bandung yang berisi; Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB, Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa, Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil dan Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam persoalan-persoalan dalam negeri negara lain.

Bandung yang juga dijuluki 'Paris van Java' itu menjadi tempat lahirnya kesepakatan pemimpin-pemimpin dunia untuk melawan aneka bentuk penjajahan. Mulai hari ini detikcom akan menurunkan tulisan tentang jejak-jejak Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Isi Lengkap Dasasila Bandung:

1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.

3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.

4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.

5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian mahupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.

6. (a) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara-negara besar, (b) Tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain.

7. Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi mahupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.

8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.

9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.

10.Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional


(erd/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads