Mereka mendesak Presiden Jokowi mencabut Perpres No 51/2014 yang menghapus fungsi kawasan Teluk Benoa sebagai wilayah konservasi.
“Kami, warga masyarakat Indonesia bersama dengan simpatisan pencinta lingkungan di Washington DC, mendesak presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo untuk mencabut Perpres No 51/2014. Kami memandang peraturan yang dikeluarkan pada saat akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut sarat dengan kepentingan bisnis yang akibatnya akan sangat merugikan kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan, dan bahkan politik di Propinsi Bali,” demikian pernyataan sikap mereka pada saat menggelar aksi di depan The Capitol pada hari Sabtu (11/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kehidupan Teluk Benoa akan terjungkir bila rencana reklamasi diteruskan. Alih-alih akan menciptakan kehidupan (revitalisasi), reklamasi hanya akan membawa berbagai macam bencana, mulai dari bencana ekologis, ekonomi, sosial, dan kebudayaan, baik untuk masyarakat sekitar maupun untuk masyarakat Bali secara keseluruhan,” ujar mereka.
Para peserta aksi yang menamakan diri 'Washington DC untuk Tolak Reklamasi Teluk Benoa' itu menggelar spanduk bertuliskan 'Washington DC Stands Against the Destruction of Bali’s Environment'. Selain itu mereka juga menyanyikan lagu 'Bali Tolak Reklamasi'. Turut hadir dalam aksi tersebut Daniel Ziv, sutradara film Jalanan yang berasal dari Kanada tapi telah lama menetap di Bali.
(vid/vid)











































