Fadli Badjuri adalah salah satu keturunan dari keluarga pemilik Rumah Makan Madrawi. Sang ibunda Fadli yang memasak menu-menu di rumah makan tersebut. Menurut Fadli jaman dahulu sulit sekali membuat rumah makan hingga bisa memasang plang dan dikenal oleh banyak orang.
"Dulu rumah makan ini satu-satunya yang besar. Cukup terkenal. Ada 99 menu di Madrawi. Soekarno sangat menyukai makanannya," tutur Fadli kepada detikcom saat ditemui di kediamannya di kawasan Jalan Dewi Sartika, Kota Bandung, (11/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bumbu kacang saja biasa. Tapi Soekarno bilang enak. Dia hampir setiaap hari makan di sini. Kebetulan waktu itu dia kan tinggal di rumah Bu Inggit, di dekat sini," terang Fadli.
Karena cita rasanya yang sudah teruji, maka Soekarno berani memperkenalkan menu sate, soto dan rawon dari rumah makan tersebut kepada para tamu negara.
"Soekarno bilaang enak. Enggak ada tandingannya. Jadi dia meminta saya buat menyiapkan sate dan makanan lain untuk diantar ke rumah dinas Gubernur," terang Fadli.
Di tempat yang sama, anak Fadli, Abdul Fatah membenarkan bahwa Rumah Makan Madrawi sejak dulu dikenal. Bahkan mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan.
"Jadi makanan kita dari dulu, dari aman belanda suka dicek kehigienisannya, sampai tahun 80an kita selalu dipantau," ucapnya.
Sejak 1987 rumah makan Madrawi sudah tidak berjualan lagi karena ada perluasan kawasan Masjid Agung dan rumah makan tersebut dijadikan sebagi kantor Satpol PP. Namun jika ada yang memesan, keluarganya masih menyiapkan. Resep sate turun temurun tersebut kini dipegang oleh anak perempuan Fadli.
(avi/ndr)










































