Kampung Matematika, Wujud Kepedulian Mantan Guru pada Pendidikan Indonesia

Kampung Matematika, Wujud Kepedulian Mantan Guru pada Pendidikan Indonesia

- detikNews
Sabtu, 11 Apr 2015 14:28 WIB
Kampung Matematika, Wujud Kepedulian Mantan Guru pada Pendidikan Indonesia
Jakarta - Walaupun peningkatan mutu pendidikan di Indonesia telah berkembang serta mengalami inovasi, namun kualitas siswa dalam memahami pelajaran matematika masih rendah.

Dalam sebuah survei yang dilaksanakan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012, Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara untuk kualitas pelajaran matematika. Peringkat Indonesia hanya setingkat di atas negara Peru.

Melalui keprihatinan itulah, seorang mantan guru bernama Raden Ridwan Hasan Saputra, menggagas pembangunan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang menjadi cikal bakal Kampung Matematika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tujuan saya mendirikan KPM dan Kampung Matematika karena saya melihat bahwa klinik pendidikan itu hanya ada di kota-kota, sementara anak-anak di kampung tidak tersentuh klinik pendidikan yang memungut bayaran seikhlasnya," ujar Ridwan saat mendampingi Mendikbud Anies Baswedan meresmikan Kampung Matematika di Desa Laladon, Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (11/4/2015).

Berdiri sejak tahun 2005, KPM bergerak di bidang pendidikan Matematika dan IPA. Sepuluh tahun berdiri, komunitas ini mengabdikan dirinya pada pembelajaran Matematika Nalaria Realistik.

Awal berdiri, KPM menggunakan sistem konvensional, yaitu siswa yang belajar di KPM diberikan beban biaya. Tahun 2013, KPM Menerapkan Sistem Metode Seikhlasnya (SMS) dimana dalam menjalankan operasional, siswa tidak lagi dibebankan biaya belajar, tapi hanya memasukkan uang sesuai kemampuan ke dalam amplop, kemudian dimasukkan ke dalam keropak (kotak) yang disediakan.

"Berdasarkan pengalaman, metode ini mamp‎u memperbaiki akhlak siswa, hal ini sudah sejalan dengan penerapan pendidikan karakter di sekolah," ujarnya.

Keberadaan KPM awalnya tak berjalan mulus‎. Saat pertama berdiri, KPM mendapatkan penolakan dari masyarakat karena dianggap penyebarkan ajaran sesat, karena KPM mengajar siswa tanpa dipungut bayaran.

"Hambatan berikutnya adalah saat KPM menerapkan metode SMS. Banyak masyarakat yang menganggap bayaran seikhlasnya itu adalah gratis," kata Ridwan, yang juga sudah malang melintang sebagai pembina olimpiade matematika tingkat nasional dan internasional ini.

Namun seiring berjalannya waktu, KPM terus berkembang. Tahun 2015, KPM telah berdiri di beberapa kota di Indonesia seperti Surabaya, Solo, Semarang, Serang, Sidoarjo, Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang dan Makassar.

"Sementara untuk Kampung Matematika, kami juga menggunakan metode belajar nalaria realistik, sementara untuk bayarannya seikhlasnya, karena kita melihat mayoritas anak-anak di kampung itu tidak mampu. Nah, dengan sistem seperti itu, anak-anak akan terbantu," jelas peraih penghargaan Satyalencana Wira Karya dari Presiden SBY pada tahun 2007 lalu.

Ada 5 rumah yang secara sukar‎ela oleh warga dijadikan tempat belajar bagi para siswa di kampung Matematika ini. Dengan fasilitas sederhana, kampung Matematika berhasil mengirimkan wakilnya ke ajang olimpiade sains nasional dan luar negeri. Semua itu tak terlepas dari metode belajar menggunakan nalaria realistik.

"Metode ini menjelaskan matematika dan sains kepada anak lebih kepada pengembangan nalar, jadi istilahnya membahas matematika untuk masalah nyata, digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dana arahnya ke penalaran logika. Disini kami ingin memberikan keyakinan bahwa matematika bukanlah pelajaran yang sulit dan menakutkan, namun menyenangkan," tutupnya.

(rni/bar)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini